Cari Posisi Osama dengan Teori Penyebaran Flora Fauna

Cari Posisi Osama dengan Teori Penyebaran Flora Fauna

- detikNews
Kamis, 19 Feb 2009 09:23 WIB
Cari Posisi Osama dengan Teori Penyebaran Flora Fauna
Washington - Di manakah posisi pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden berada? Sampai saat ini belum ada yang tahu.

Invasi Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2002 di Afghanistan pun belum berhasil mengejarnya.

Namun dua ahli dari Universitas California Los Angeles menduga kuat Osama berada di Kota Prachinar, Pakistan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menganalisa dengan citra satelit dan menggunakan teori penyebaran flora dan fauna. Demikian dilansir Reuters, Kamis (19/2/2009).

Dua profesor geografi itu, Thomas Gillespie dan John Agnew, menggunakan teori yang memprediksi bagaimana binatang menyebarkan dirinya melintasi ruang dan waktu.

Data awal yang dipakai Gillespie dan Agnew adalah di mana Osama terakhir dilaporkan terlihat, Pegunungan Tora Bora, Afghanistan.

Berdasar analisa satelit, teori penyebaran flora fauna dan data awal didapatlah Parachinar, kota yang terletak di 12 mil dari perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Kedua ilmuwan itu yakin, Osama bersembunyi di salah satu dari tiga kamp gedongan di kota itu.

Alasannya, di Parachinar memungkinkan mereka bisa mendapatkan pasokan listrik, perlindungan fisik, privasi personal dan sejumlah pengawal dengan tempat yang sangat terlindung.

Parachinar juga merupakan kota yang cukup besar dan dekat Pakistan. Hal itu menimbulkan sedikit kecurigaan daripada bersembunyi di kota kecil atau bahkan tempat yang terisolasi.

"Parachinar mempunyai sejarah panjang menjadi markas mujahidin saat Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1980-an. Jadi tempat itu paling banyak memiliki tentara Taliban yang menyeberang ke sini dari Afghanistan," ujar Gillespie dalam jurnal ilmiah Massachusets Institute of Technology (MIT).

Dengan riset ini, mereka membantah dugaan pemerintahan AS di bawah Presiden George W Bush bahwa Osama bersembunyi di gua.

Alasannya, gua mempunyai jalan masuk tertutup, suhu udara yang naik turun, dan butuh suplai setiap periode tertentu.

"Berbagai tanda itu bisa dengan mudah dideteksi dari satelit luar angkasa," imbuh Gillespie. (nwk/nrl)


Berita Terkait