TNI: PA Jangan Putar Maling Teriak Maling

Keamanan Pemilu di Aceh

TNI: PA Jangan Putar Maling Teriak Maling

- detikNews
Rabu, 18 Feb 2009 13:35 WIB
Jakarta - TNI kerap dituding melakukan teror, intimidasi, penyerangan, penculikan, perampokan dan pembunuhan oleh Partai Aceh (PA) dan Komite Peralihan Aceh (KPA). Komando Resort Militer (Korem) 011/Lilawangsa balik meminta agar PA dan KPA jangan seperti maling teriak maling.

"Tetapi mari kita bicara dengan hati yang tulus, jujur dan ikhlas. Terutama di dalam menjaga perdamaian di provinsi paling Barat ini," kata Komandan Korem 011/LW, Kolonel Inf Eko Wirtatmoko dalam siaran persnya yang disampaikan via email, Rabu (18/2/2009).

Hal itu sampaikan Eko Wiratmoko terkait berbagai spekulasi dan tuduhan tidak berdasar oleh Juru bicara Partai Aceh (PA) Adnan Beuransyah, yang didampingi beberapa angota KPA. Eko meminta kepada seluruh kader PA maupun pendiri parpol lokal di Aceh itu, yang notabene mantan GAM, termasuk para petingginya, jangan coba-coba menebar fitnah dan jangan memutarbalikkan fakta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena, lanjut Eko, selama ini setiap ada kejadian KPA maupun PA selalu memutarbalikan fakta dan tidak pernah berkata jujur alias tukang bohong. "Mari kita buktikan di hadapan publik. Mari buktikan bersama di lapangan, saya siap terjun ke lapangan sampai ke pelosok-pelosok desa," jelasnya.

Eko juga mengajak kepada PA, KPA bersama Muspida, baik itu Bupati, Dandim dan unsur terkait lainnya di masing-masing daerah untuk turun dan cek kepada masyarakat. "Siapa yang sebenarnya sering melakukan teror, intimidasi, perampokan, pembunuhan dan berbagai tindak kriminal lainnya. Jangan asal ngomong, lain di mulut lain di hati," ucapnya.

Eko mencontohkan, beberapa kejadian ke belakang seperti pembunuhan terhadap Adriansyah dan istri serta anaknya di Kecamatan Permata, pembunuhan Wahab salah seorang anggota PETA di Cot Girek, perampokan oleh Burok di Cot Girek, penculikan yang dilakukan Muharram, penganiayaan terhadap dua orang santri di Lhoksukon. Belum lagi, kasus intimidasi, pemaksaan terhadap masyarakat, yang dilakukan sistematis oleh kader-kader PA dan anggota KPA di daerah
pedalaman seperti di Aceh Timur, Aceh Utara, Bireun, Pidie dan di daerah pesisir lainnya.

Bahkan, ungkap Eko lagi, ada sejumlah keucik-keucik (kepala desa) di daerah yang dipaksa membeli bendera Partai Aceh. "Dan, mereka tidak segan-segan membakar, merusak umbul-umbul dan bendera partai nasional. Saya tidak pernah ngomong asal-asalan," ungkapnya.

Eko bahkan menantang semua pihak untuk masuk ke kampung dan desa-desa di Aceh, apa ada bendera partai selain Partai Aceh. "Apakah ini yang dinamakan menjaga perdamaian yang hakiki? Menjunjung tinggi demokrasi? Coba mari direnungkan bersama," tegasnya lagi.

Eko menambahkan selaku Danrem 011/LW meminta masyarakat agar memilih partai sesuai dengan hati nuraninya dan jangan pilih partai yang berazaskan separatis. Dia juga meminta masyarakat tidak perlu takut dengan adanya teror dan intimidasi.

"Jangan takut di teror, diintimidasi. Apabila ada  segera Laporkan kepada aparat keamanan terdekat," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Eko menegaskan kembali bahwa tidak ada milisi atau kelompok bersenjata yang dukung TNI di Bumi Serambi Mekah itu, khususnya di Kabupaten Bener Meriah. TNI tidak kenal yang namanya milisi, karena milisi itu ada ketika seluruh rakyat Indonesia menentang penjajahan Belanda.

"Yang ada itu milisi asing yang saat ini bersembunyi di samping kantor Gubernuran Provinsi NAD," cetusnya.

Eko juga menilai keinginan Gubernur Nad Irwandi Yusuf, M Nazar dan Ibrahim KBS yang meminta pemantau asing di Aceh, sungguh aneh dan terlalu mengada-ngada. "Coba lihat kejadian di Kabupaten Aceh Tengah di mana seorang petani kopi dibohongi seorang oknum warga asing asal
Belanda. Kejadian itu sudah lama, tapi baru diberitakan  beberapa hari lalu," ungkapnya lagi. (zal/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads