"Saya lapor ke Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Hardiono, terkait pasien di RS Bhakti Yudha dan RS Mitra Keluarga Depok. Selama dirawat di sana ada kesan pihak rumah sakit mempersulit," ujar kakak ipar Dorkas, Evita Hutapea kepada detikcom di kantor Dinas Kesehatan Kota Depok, Jl Margonda Raya, Depok, Jawa Barat, Senin (16/2/2009).
Menurut Evita, tindakan rumah sakit yang mempersulit Dorkas yakni saat menebus obat tidak boleh beli di luar dan harus beli di rumah sakit. Alasannya pasien dirawat di rumah sakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Evita menuturkan, kejanggalan lainnya yang dilakukan RS Mitra Keluarga Depok yakni ketika keluarga berencana membawa berkas ke RS Fatmawati untuk melakukan operasi penutupan selang bantuan pernafasan.
Namun pihak RS Mitra Keluarga Depok selalu menghubungi keluarga agar operasi dilakukan di RS Mitra. Tujuannya agar penanganan dilakukan sampai selesai.
"Padahal pihak keluarga sudah mulai kesulitan masalah biaya. Tapi karena dipaksa akhirnya melakukan operasi di situ. Ada indikasi pihak RS Mitra melihat karena keluarga mampu membayar Rp 163 juta," beber Evita.
Ketika detikcom mendatangi RS Mitra Keluarga Depok, salah seorang bagian informasi rumah sakit yang belum setahun beroperasi di Depok itu mengatakan pihak rumah sakit belum bisa memberikan keterangan.
"Keterangan akan diberikan pada Rabu yang dilakukan oleh direksi," kata wanita yang enggan disebutkan namanya ini.
Dorkas mati suri satu hari setelah melakukan operasi caesar di RS Bhakti Yudha, Depok, pada 9 November 2008 silam. Operasi yang dimulai pukul 18.00 WIB itu semula berjalan sukses. Putri Dorkas yang lantas diberi nama Margareth bisa lahir dengan selamat. (nik/nwk)











































