Rumah Tergadai untuk Pengobatan Dorkas

Mati Suri 3 Bulan

Rumah Tergadai untuk Pengobatan Dorkas

- detikNews
Senin, 16 Feb 2009 09:09 WIB
Rumah Tergadai untuk Pengobatan Dorkas
Depok - Rumah itu tidak jauh berbeda dengan rumah sekitarnya, sederhana namun asri. Namun siapa sangka, di dalam rumah itu terdapat seorang ibu dengan kondisi menyedihkan.

Sejak 10 November 2008, Dorkas Silitonga (32 tahun) hanya bisa tiduran. Usai menjalani operasi caesar anak pertamanya di RS Bhakti Yudha, Depok, Dorkas tak sadarkan diri. Untuk makan dan minum pun sarjana pendidikan ini harus dibantu melalui selang infus yang masuk lewat badannya.

Sejak 17 Desember 2008, sebuah kamar berukuran 3x2 meter menjadi ruangan Dorkas. Tabung oksigen besar berdiri tegak di samping tempat tidurnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat detikcom mendatangi rumahnya di Jl Cagar Alam, Kampung Kavling RT 02/17, Pancoran Mas, Depok, Minggu (15/2/2009) malam, Dorkas baru saja menjalani cek tekanan darah.

Badan Dorkas tampak sangat kurus. Jelas sekali terlihat jari-jari tangannya yang kaku dengan posisi seperti habis mengepal. Kondisi jari kakinya tidak jauh berbeda.

Kelopak matanya tidak dapat ditutup sehingga bola matanya terus terbuka. Mulutnya sesekali seperti mengucapkan sesuatu atau layaknya mengunyah. "Dia kadang-kadang memang seperti itu," jelas suaminya, Ramli Simanjuntak.

Total, Rp 250 juta sudah dihabiskan keluarga ini untuk biaya pengobatan Dorkas. Pekerjaan Ramli sebagai subcontractor praktis terbengkalai akibat penyakit yang diderita istrinya. Bahkan hingga saat ini Ramli saja masih menunggak Rp 13 juta kepada RS Mitra Keluarga, Depok.

"Praktis rumah ini sudah tergadai," ucap Ramli.

Tidak terbayangkan kesedihan yang dialami Ramli. Bayi perempuan lucu yang diberi nama Margareth itu merupakan anak pertama mereka usai menunggu 6 tahun lamanya. Ramli dan Dorkas menikah sejak tahun 2002.

"Setelah ditunggu (kelahiran anak), eh malah datang kaya gini," keluh Ramli.

Berbagai cara untuk menyadarkan Dorkas bukannya tak dilakukan. Mulai dari akupuntur hingga pengobatan medis terus dilakukan. Bahkan meski Margareth sudah didatangkan untuk membantu menyadarkan Dorkas, tetap saja tidak ada perubahan.

Ramli sebenarnya ingin sekali mengetahui apa yang terjadi terhadap istrinya. Dia sendiri tidak habis pikir, mengapa Dorkas yang masuk ke RS Bhakti Yudha dalam keadaan sehat sekarang seolah hidup tak bernyawa.

Namun rasa penasaran itu tidak juga terlampiaskan karena ketakutannya menempuh
jalur hukum. "Saya bingung kalau nanti ditanya-tanya, jawab apa. Nanti malah
saya yang salah," jelasnya.

Meski begitu, harapannya untuk melihat Dorkas sembuh tetap besar. Keinginan
Ramli untuk membawa istrinya mendapat perawatan layak di RS tidak pernah pudar.
Dia pun sangat berharap ada orang yang mau membantunya.

"Kita mentok soal biaya," ujarnya. (mok/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads