Hal ini dituturkan sang suami, Ramli Simanjuntak, saat detikcom mengunjungi rumahnya di Jl Cagar Alam, Kampung Kavling RT 02/17, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Minggu (15/2/2009) malam.
Permintaan itu dilontarkan Dorkas suatu hari usai menjalani operasi cesar kelahiran bayi pertamanya. Waktu itu, dia memang belum sekalipun melihat buah hati tercintanya.
Usai melakukan operasi caesar pada 9 November silam, menurut Ramli, istrinya hanya dapat melihat sekilas saja bagian kepala anaknya. "Rambutnya lebat Pak," ujar istrinya seperti ditirukan Ramli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi yang memakan waktu satu jam ini akhirnya berjalan sukses. Bayi perempuan
lucu itu diberi nama Margareth.
Usai bertanya, entah mengapa tiba-tiba Dorkas marah setelah mendengar jawaban dari sang suster. "Nanti dulu, anaknya lagi dibersihin," ujar suster saat itu.
Dalam hitungan menit saja, tubuh Dorkas mengalami kejang-kejang hebat. Nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang susah bernafas. Malangnya, pertolongan tabung oksigen datang sedikit terlambat.
Saat itu Ramli memang tengah berada di Lampung untuk urusan pekerjaan. Selama menjalani operasi, Dorkas ditemani oleh tetangga dan kakak Ramli. Tapi mereka terus berkomunikasi melalui handphone.
Oleh RS Bhakti Yudha, Dorkas disarankan segera dibawa ke RS yang memiliki fasilitas Intensive Care Unit (ICU). RSCM sempat menjadi pilihan, namun hal itu urung dilaksanakan karena kondisi Dorkas yang sudah sangat kritis.
"Badannya sudah hitam, makanya kita bawa ke RS Mitra Keluarga Depok," jelas Ramli.
Menurut dokter RS Mitra, telah terjadi pembengkakan otak pada Dorkas. Hal ini karena terlambatnya suplai oksigen yang masuk ke otak. Entah mengapa, hampir
seluruh penyakit seperti menyerbu badan Dorkas.
"Mulai dari gagal ginjal, jantung lemah, infeksi paru-paru, pokoknya semuanyalah," terang Ramli yang terlihat tegar ini.
Dua minggu di ruangan ICU, kondisi Dorkas tidak juga ada kemajuan. Dokter bahkan sempat memvonis umur Dorkas tidak akan lama lagi. Namun Ramli tidak patah semangat untuk mengupayakan kesembuhan istrinya.
Ramli sempat berkonsultasi dengan seorang dokter ahli syaraf di RS Pantai Indah
Kapuk. Niat untuk dirawat di RS ini kandas karena sang dokter menyerah.
RS hanya mau menampung jika pihak keluarga memaksa. Begitu juga dengan RS Mitra yang enggan melepas sang pasien dalam kondisi sedemikian parahnya.
"Akhirnya kami tetap di sini (RS Mitra)," ujarnya.
Tepat 17 Desember, keluarga memutuskan untuk membawa Dorkas pulang ke rumah. Hal ini dilakukan karena Ramli sudah kewalahan membayar biaya perawatan di rumah sakit yang sudah mencapai Rp 176 juta. Keputusan ini diambil juga karena melihat Dorkas yang sudah mulai bisa bernafas tanpa menggunakan bantuan oksigen.
(mok/nrl)











































