"Kota itu biasa untuk bulan madu," ujar Dian Islamiati Fatwa, reporter Radio Australia, pada detikcom, Kamis (12/2/2009).
Untuk menuju kota ini, harus melewati jalan yang berkelok-kelok sekitar 1 jam dari Melbourne. Sepanjang perjalanan pemandangan indah menghampar. Pepohonan cantik membentuk kanopi, belum lagi hawanya yang sejuk. Suasana yang pas untuk tetirah. Apalagi saat itu Melbourne sedang panas, di atas 40 derajat Celcius. Jadi berlibur ke Marysville adalah pilihan tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebab mereka juga sedang menikmati pemandangan," ujar Dian.
Pohon-pohon di Marysville dipelihara dengan baik. Bahkan untuk menebang pohon pun, warga harus lapor ke pamong praja untuk alasan sustainability. Hal ini kadang memicu kemarahan warga.
Dan sialnya, justru pohon-pohon itu jugalah yang membuat kebakaran di Marysville Sabtu lalu sukar dijinakkan. Sebab api dengan cepat berloncatan dari satu wilayah ke wilayah lain dengan medium pepohonan. Agar pohon tak dijadikan media api, akhirnya pohon yang masih selamat ditebang. Tapi apa lacur, api meloncat dengan lihainya ke pohon lain yang masih berdiri gagah.
"Kebijakan larangan menebang pohon itu jadi buah simalakama," ujar Dian.
Informasi dari Konjen RI di Melbourne menyebutkan, kota itu berpenduduk 519 orang. Sekitar 100 warganya diperkirakan tewas akibat kebakaran Sabtu 7 Februari. Kota ini merupakan salah satu kota yang mengalami dampak paling parah. Hampir seluruh rumah habis terbakar.
"Kota ini seperti terhapus dari peta," ujar Dian.
Suasana Marysville pada kebakaran 7 Februari digambarkan bak neraka. John Munday, petugas kebakaran yang berhasil memasuki kota itu sebelum pukul 6 sore saat itu, terpaksa mengambil keputusan berat karena memilih menyelamatkan diri mereka sendiri dan membiarkan warga lain tewas.
Mereka menolak orang-orang yang memohon agar Munday cs pergi ke rumah-rumah yang berisi orang-orang yang terperangkap api. "Kami tak mau karena bila kami lakukan, kami semua akan mati juga," kata Munday pada The Australian edisi 11 Februari.
"Sejumlah anak-anak berlarian di jalanan dengan api di belakang mereka. Itu neraka. Saya tak pernah ingin ke sana lagi, tak pernah," ujar Munday. (nrl/ken)











































