Menurut Dian Islamiati Fatwa, reporter Radio Australia yang menetap di Melbourne, api dan kebakaran sangat akrab dengan masayarakat Australia. Suku Aborigin biasa memantik api untuk perladangan berpindah, mengingat mereka hidup nomaden. Namun pembakaran lahan yang mereka lakukan cukup terkontrol. Sedangkan bangsa kulit putih Australia biasa memantik api untuk menghangatkan badan.
Ketika kebakaran lahan mulai terjadi Sabtu 7 Februari, masyarakat negara bagian Victoria menyambutnya dengan biasa-biasa saja, toh sudah menjadi langganan tahunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat Australia terlalu menyepelekan kebakaran, dikira kebakaran akibat musim panas biasa," kata Dian pada detikcom, Kamis (12/2/2009).
Masyarakat Australia sendiri memiliki fasilitas dan keahlian mumpuni dalam menghadapi bushfire. Jadi ketika kebakaran terjadi, mereka biasanya enggan mengungsi. Apalagi kebijakan Australia adalah "stay and fight the fire or leave".
Jika orang itu memilih stay, maka dia dianggap memiliki kemampuan perlindungan diri dari api. Polisi Australia tidak memiliki hak untuk memaksa orang pindah dari kawasan kebakaran. "Ini berbeda dengan polisi AS yang berhak menangkap orang yang tidak mau pergi dari lokasi kebakaran," ujar Dian.
Kebijakan inilah yang diduga membuat korban jiwa banyak berjatuhan pada kebakaran musim ini. Setidaknya 181 orang tewas di Victoria.
Orang setempat ogah-ogahan mengungsi jika terjadi kebakaran karena mereka ingin menjaga lahan pertanian mereka yang luas, lengkap dengan peternakan sapinya yang juga diekspor ke Indonesia. "Pertanian/peternakan bagi mereka adalah kebanggaan tersendiri," ujar Dian.
Dian sendiri pernah mengobservasi kebakaran di Kalimantan sehingga dia bisa membedakan dengan musibah serupa di Australia. Kebakaran di Kalimantan cenderung tidak meluas seperti di Australia karena Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat kelembaban cukup tinggi, 70-90 persen. Hal ini membuat api tidak cepat menjalar.
Berbeda dengan Australia. Kelembaban di negeri itu cukup rendah, di kisaran 5 persen saja. Itu membuat udara di sana sangat kering. "Itu seperti memberi api dengan kertas-kertas saja," ujar Dian. Dengan demikian, api menjalar sangat cepat.
Untuk menggambarkan cepatnya api menjalar, Dian memisalkan petugas kebakaran yang memberi warning begitu melihat asap kebakaran dari jarak 100 meter. Baru selesai dia mengirimkan warning, api sudah ada di depan pintu.
(nrl/ken)











































