Beda Kebakaran Lahan di Kalimantan dan Australia

Beda Kebakaran Lahan di Kalimantan dan Australia

- detikNews
Kamis, 12 Feb 2009 15:10 WIB
Beda Kebakaran Lahan di Kalimantan dan Australia
Jakarta - Kebakaran lahan bukan hal asing bagi Indonesia maupun Australia. Di negeri kita, titik api sering membara di Sumatera dan Kalimantan pada musim kemarau. Di Australia, hal serupa terjadi.

Menurut Dian Islamiati Fatwa, reporter Radio Australia yang menetap di Melbourne, api dan kebakaran sangat akrab dengan masayarakat Australia. Suku Aborigin biasa memantik api untuk perladangan berpindah, mengingat mereka hidup nomaden. Namun pembakaran lahan yang mereka lakukan cukup terkontrol. Sedangkan bangsa kulit putih Australia biasa memantik api untuk menghangatkan badan.

Ketika kebakaran lahan mulai terjadi Sabtu 7 Februari, masyarakat negara bagian Victoria menyambutnya dengan biasa-biasa saja, toh  sudah menjadi langganan tahunan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di luar dugaan, api kali ini lebih ganas dibanding biasanya. Kekeringan, angin dahsyat berkecepatan seperti badai dan suhu yang sangat panas merupakan kombinasi yang sempurna dalam menciptakan kebakaran mematikan di Victoria. Belum lagi ulah orang iseng yang sengaja menyulut api.

"Masyarakat Australia terlalu menyepelekan kebakaran, dikira kebakaran akibat musim panas biasa," kata Dian pada detikcom, Kamis (12/2/2009).

Masyarakat Australia sendiri memiliki fasilitas dan keahlian mumpuni dalam menghadapi bushfire. Jadi ketika kebakaran terjadi, mereka biasanya enggan mengungsi. Apalagi kebijakan Australia adalah "stay and fight the fire or leave".

Jika orang itu memilih stay, maka dia dianggap memiliki kemampuan perlindungan diri dari api. Polisi Australia tidak memiliki hak untuk memaksa orang pindah dari kawasan kebakaran. "Ini berbeda dengan polisi AS yang berhak menangkap orang yang tidak mau pergi dari lokasi kebakaran," ujar Dian.

Kebijakan inilah yang diduga membuat korban jiwa banyak berjatuhan pada kebakaran musim ini. Setidaknya 181 orang tewas di Victoria.

Orang setempat ogah-ogahan mengungsi jika terjadi kebakaran karena mereka ingin menjaga lahan pertanian mereka yang luas, lengkap dengan peternakan sapinya yang juga diekspor ke Indonesia. "Pertanian/peternakan bagi mereka adalah kebanggaan tersendiri," ujar Dian.

Dian sendiri pernah mengobservasi kebakaran di Kalimantan sehingga dia bisa membedakan dengan musibah serupa di Australia. Kebakaran di Kalimantan cenderung tidak meluas seperti di Australia karena Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat kelembaban cukup tinggi, 70-90 persen. Hal ini membuat api tidak cepat menjalar.

Berbeda dengan Australia. Kelembaban di negeri itu  cukup rendah, di kisaran 5 persen saja. Itu membuat udara di sana sangat kering. "Itu seperti memberi api dengan kertas-kertas saja," ujar Dian. Dengan demikian, api menjalar sangat cepat.

Untuk  menggambarkan cepatnya api menjalar, Dian memisalkan petugas kebakaran yang memberi warning begitu melihat asap kebakaran dari jarak 100 meter. Baru selesai dia mengirimkan warning, api sudah ada di depan pintu.


(nrl/ken)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads