Dalam aksinya, Kamis (12/2/2009), para aktivis lingkungan hidup yang antara lain berasal dari Greenpeace, Jatam, dan Walhi itu menutup gerbang masuk areal PLTU Cilacap. Sebanyak 10 orang aktivis berbaju oranye merantai diri mereka di pintu gerbang PLTU. Sementara puluhan aktivis lainya melakukan aksi tidur di jalanan.
"Kami mendesak penggunaan batubara tidak digunakan lagi di PLTU Cilacap dan PLTU lainnya. Penggunaan batubara menyebabkan polusi yang merusak lingkungan hidup," kata koordinator aksi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Ryanto.
Menurut Arif, polusi debu batubara telah berpengaruh buruk ke masyarakat yang tinggal dalam radius 2 km dari PLTU Cilacap. Banyak warga menderita gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan dan lainnya.
"Polisi batubara juga menyebabkan tingkat kesuburan lahan persawahan warga menurun. Sumber air tawar lama kelamaan juga bisa menjadi asin," ujar Arif.
Aksi para aktivis lingkungan hidup ini mendapat pengawalan ketat puluhan personel Dalmas dari Polres Cilacap. Hingga pukul 10.15 WIB, aksi unjuk rasa masih berlangsung dengan damai. (djo/djo)











































