Semenjak setahun terakhir, tanah di kampung tersebut mengalami pergeseran atau ambles. Bahkan selama dua bulan terakhir tanah ambles mencapai rata-rata satu meter. Karenanya 33 rumah warga mengalami kerusakan cukup parah.
"29 rumah sudah dibongkar, 4 lainnya akan menyusul karena secara kerja bakti oleh warga. Rumah yang dibongkar itu ada yang didirikan lagi atau geser ke tempat yang tanahnya tidak ambles. Ada juga yang tidak didirikan lagi," ujar Kepala Dusun Guyon, Sumanto, Rabu (11/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain rumah, kerusakan jalan juga terjadi di kampung terpencil tersebut. Jalan utama yang menghubungkan kampung tersebut dengan Tawangmangu juga terputus. Lebih parah lagi adalah beberapa jalan di kampung yang terputus dan ambles cukup dalam.
"Jika retakannya tidak seberapa lebar maka warga akan segera menambalnya dengan cor agar bisa dilewati kembali. Tapi kalau retakannya cukup dalam ya sampai sekarang masih dibiarkan. Bantuan dari kabupaten untuk perbaikan rumah warga maupun jalan kampung juga belum ada," ujar Sumanto.
Lebih lanjut Sumanto mengatakan dia termasuk warga yang lahir dan besar di kampung tersebut. Menurutnya baru setahun ini tanah di kampungnya itu mengalami ambles, bahkan semakin lama tanah ambles itu semakin lebar dan dalam.
"Sudah beberapa generasi keluarga kami tinggal disini. Kampung ini sudah lebih dari 200 tahun dihuni manusia. Dari cerita tutur para tetua, kami belum mendengar tanah disini bermasalah. Baru pada awal 2008 lalu tanah disini mengalami longsor dan setelah itu disusul ada pergerakan tanah hingga saat ini," lanjutnya. (mbr/djo)











































