Pendapat tersebut terlontar dalam bedah buku 'Siapa Pahlawan Indonesia? Bung Karno atau Soeharto' karya seorang eks tapol PKI, STK Mursidi Cokro Supadmo, yang digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Senin (9/2/2009).
YS Winarso dari Yayasan Pengabdian Hukum Indonesia (Yaphi) yang menjadi salah seorang pembicara dalam bedah buku tersebut mengatakan bahwa pragmatisme dan oportunisme telah menguasai sebagian besar aktivis yang kini menjadi menjadi politisi dan pejabat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita hitung-hitung ada berapa partai yang mengaku berasas Islam yang mempunyai wakil di DPR, namun semuanya sama sekali tidak membantu korban. Padahal kasus Talangsari itu adalah murni represi rezim terhadap warga muslim yang dituduh subversi hanya karena mendirikan pesantren," ujar Winarso.
Demikian juga perjuangan para eks tapol PKI yang telah mendapat penyiksaan dan hukuman tanpa melalui proses pengadilan dari rezim. Perjuangan para eks tapol PKI tersebut juga selalu terhenti karena tidak ada dukungan dari para anggota DPR, padahal ada banyak aktivis muda yang kini duduk sebagai anggota DPR.
"Pada Pemilu 1999 para eks tapol PKI ini bersatu mendukung PDIP hanya karena dipimpin anak Soekarno, dengan harapan akan memperjuangkan cita-cita ayahnya. Tetapi ketika Megawati menjabat presiden jangankan meneruskan perjuangan, bahkan merahabilitasi namanya ayahnya saja Megawati tidak melakukannya," lanjut Winarso.
Pendapat serupa juga didukung pengamat politik dari UII Yogyakarta, oleh Eko Prasetyo, yang juga menjadi pembicara dalam bedah buku tersebut. Menurut Eko pragmatisme dan oportunisme sikap kaum muda dapat dilihat secara nyata dalam peta politik saat ini.
"Banyak kawan-kawan saya dulu diculik dan disiksa sekarang mendukung dan bergabung pada partai yang dipimpin penculik dan penyiksanya. Itu sebuah kenyataan yang dapat kita saksikan saat ini," ujar Eko Prasetyo. (mbr/djo)











































