Kisah 4 ABG ini disampaikan Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, di kantor KPA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (9/2/2009).
4 ABG itu berinisial S (15), H (13), A (18), dan D (30).
Dalam kesempatan itu, Arist menceritakan kisah S (15) yang kabur dari rumah saat punya masalah. S lalu lari ke Terminal Raja Basa, Lampung.
"Dia bertemu dengan orang yang bernama Rustam. Rustam lalu mengajak ke rumahnya dan diiming-imingi untuk disekolahkan," kata Arist.
Setelah didaftarkan sekolah dan hendak berangkat sekolah, kata Arist, S diculik 5 orang yang bertopeng dengan cara disuntik.
"Kemudian, dia tidak sadar. Tiba-tiba sudah ada di bandara Pontianak.
Dia ditampung di Entikong kemudian dikirim ke Kuching, Malaysia.
Ada 3 anak lainnya. Mereka dibawa dengan mobil dan disembunyikan di kolong jok," ujarnya.
4 ABG itu berada di Malaysia selama 2,5 bulan. Mereka dipekerjakan sebagai PSK.
"Dia dipercaya oleh pihak di sana (pengelola prostitusi) untuk memegang handphone dan berusaha menelepon saudaranya di Lampung. Akhirnya diberikan nomor telepon KBRI di Malaysia kemudian KBRI menghubungi polisi. Ketika didatangi di sana sudah tidak ada siapa-siapa," beber Arist.
LSM Anak Bangsa, Arsinah Sumitro, menambahkan anak-anak ini dijual dengan nilai 5.000 ringgit.
"Di sana dijadikan PSK. Setelah berhasil dibebaskan oleh Konsulat Jenderal pada 21 Agustus 2008 diserahkan kepada kami," kata Arsinah.
Menurut Arsiah, ABG itu ingin pelaku ditangkap. "Kemudian, kita bawa ke kantor polisi kurang lebih 1 bulan, pelaku masih belum ditemukan.
Beberapa waktu lalu, 2 dari 5 orang pelaku sudah ditangkap. Nurdin dan Kamseng dan sudah disidangkan," beber Arsinah.
Dalam sidang itu, lanjut dia, muncul nama Eka yang saat ini sedang ditelusuri. (aan/nrl)











































