"Kami hanya tidak tega mayat Dwi dibedah-bedah," kata Daryanto, ayah Dwi, saat ditemui di rumahnya, Perumahan Taman Galaksi, Bekasi Selatan, Senin (9/2/2009).
Daryanto menegaskan, dia sangat berharap kasus ini ditindaklanjuti oleh pihak ITB. Hal tersebut sudah disampaikannya saat bertemu dengan perwakilan ITB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tuntutan senada disampaikan Widya Wulandari, kakak kandung Dwi. Menurut Widya, kasus ini harus diselesaikan sesuai hukum yang berlaku agar tidak terulang di kemudian hari.
"Pihak rektorat bilang akan memberikan sanksi, tapi bentuknya apa kami tidak tahu," ungkap Widya.
Dwi meninggal sekitar pukul 03.00 WIB, Minggu 8 Februari, saat dilarikan ke RS Borromeus Bandung. Diduga kuat, mahasiswa baru itu mengalami kelelahan berat saat mengikuti ospek yang digelar Ikatan Mahasiswa Geodesi ITB . Namun kabar berita duka itu baru diterima pihak keluarga sekitar pukul 06.00 WIB.
Pada hari yang sama, jenazah Dwi dibawa pulang oleh keluarga dan dimakamkan di TPU Malaka, Jakarta Timur. (djo/nrl)











































