RI Dorong Shell Masuk Refinery, Batam Disediakan

Laporan dari Den Haag

RI Dorong Shell Masuk Refinery, Batam Disediakan

- detikNews
Minggu, 08 Feb 2009 18:12 WIB
RI Dorong Shell Masuk Refinery, Batam Disediakan
Den Haag - Raksasa minyak joint venture Belanda Inggris, Shell, didorong untuk tidak hanya main di hulu dan hilir. RI menyediakan Batam untuk pusat refinery Shell di Indonesia.

Hal itu diungkapkan Kepala BKPM M. Lutfi seusai mendampingi pertemuan tertutup antara Wapres JK dengan Perdana Menteri Jan Peter Balkenende di kediaman resmi Catshuis, Sabtu (7/2/2009).

"Kami yakinkan perdana menteri agar Shell masuk menggarap refinery (penyulingan, red). Kami sediakan Pulau Batam untuk basis Shell di Indonesia," demikian Lutfi kepada detikcom dalam perbincangan empat mata di dalam mobil VVIP menuju kedai pannenkoek di Scheveningen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lutfi menilai ini merupakan sebuah visi dan terobosan baru. Kalau hanya mengundang raksasa minyak masuk untuk eksplorasi dan penggarapan (hulu) ladang-ladang migas dan pemasaran (hilir) itu merupakan visi yang sudah tertinggal.

"Dengan masuknya Shell ke sektor tengah, membangun pusat refinery, minyak-minyak mentah kita bisa langsung digarap di dalam negeri dan kita bisa menghemat devisa luarbiasa. Kita sediakan Pulau Batam untuk Shell," tegas Lutfi.

Menurut Lutfi, gagasan yang ditawarkan ini langsung dicatat secara khusus oleh PM Balkenende untuk selanjutnya dibicarakan bersama para CEO Shell.

Shell adalah salah satu pemain besar kelas dunia di bidang migas dan menguasai teknologi dan pengalaman unggul, yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

Sementara itu Wapres dalam keterangan kepada pers di Hotel Crowne Plaza Promenade, Den Haag, menegaskan bahwa kepada PM Balkenende dia menyampaikan Shell dipersilakan ikut tender pengelolaan Blok Natuna D Alpha, menyusul pemain lain yang sudah masuk shortlist, yakni Exxon Mobile, Statoil (Norwegia) dan satu perusahaan dari Asia.

"Saya bilang oke asalkan Shell memenuhi syarat. Mereka katanya siap. Kita memang ingin agar sumber energi kita hanya dikelola secara manual, akan tetapi juga harus secara teknologi. Jadi, bukan hanya AS, akan tetapi juga Eropa dan lainnya agar kita memiliki perbandingan," demikian JK (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads