Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Adam Malik Azwan Hakmi mengatakan, sejak Kamis sore, kondisi kesehatan Marwati 1 dan Marwati 2 memburuk akibat kelainan jantung yang diderita sang bayi.
Tim dokter sempat memberikan alat bantu pernafasan pada Marwati 1 dan Marwati 2 selama hampir tujuh jam. Namun bayi yang memiliki dua jantung pada satu rongga ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 21.30 WIB.
"Akibat kelainan jantung terutama pada Marwati 1, paru-paru bayi tidak berfungsi dengan normal. Kondisi kesehatan bayi berpengaruh pada pasangannya," tambah Azwan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sudah ikhlas. Dokter sudah berupaya. Mau bagaimana lagi," kata Mugiono.
Meski belum sempat ditabalkan, Mugiono memberi nama kedua bayinya dengan panggilan Deby dan Dara. Mugiono juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu perawatan Deby dan Dara.
Jumat 6 Februari 2009 dinihari sekitar pukul 00.30 WIB, pihak keluarga langsung membawa jenazah Dedy dan Dara pulang ke Afdeling II, PTPN I Langsa, Desa Julok Rayeuk, Kecamatan Julok, NAD, menggunakan mobil ambulance. Rencananya pemakaman akan dilakukan Jumat siang.
Detik-detik sebelum mobil jenazah berangkat, Marwati sempat menyalami tim dokter dan petugas medis yang merawat anaknya di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUP Adam Malik Medan sambil meneteskan air mata.
Bayi berkepala dua, Deby dan Dara, merupakan anak ketiga dan keempat dari pasangan Mugiono dan Marwati. Sehari-hari keduanya bekerja sebagai buruh di perkebunan PTPN I Langsa. Deby dan Dara lahir pada 25 Januari 2009 di RS Cut Meutia, Langsa, dengan berat 4,6 kilogram, lewat operasi caesar.
Bayi bertubuh satu berkepala dua ini sempat dirujuk ke RS Tembakau Deli, Jl. Putri Hijau Medan. Akibat keterbatasan alat dan ketersediaan dokter ahli, sang bayi selanjutnya dirujuk ke RSU. H. Adam Malik, Jl Bungalow, Medan. (rul/nwk)










































