"Ke-250 artefak Nias koleksi Dr. Durdik itu menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Nias pada awal abad 19," Korfungsi Pensosbud Azis Nurwahyudi kepada detikcom hari ini, Kamis (5/2/2009).
Selama berada di Nias (1880-1882), Dr. Durdik telah mengumpulkan 1.100 artefak, yang seluruhnya kini menjadi koleksi Museum Kebudayaan Asia Afrika dan Amerika, Praha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sambutannya Retno menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih atas kerjasama dari pemerintah Ceko, yang telah memfasilitasi pameran permanen tersebut.
Diharapkan kerjasama Indonesia–Ceko terus berkembang dan Perjanjian Kebudayaan kedua negara yang telah berusia lebih dari 50 tahun terus diimplementasikan melalui berbagai kegiatan kebudayaan, baik di Ceko maupun di Indonesia, sehingga dapat menguatkan persahabatan kedua bangsa.
Lebih lanjut disampaikan bahwa pasca Tsunami, kondisi Nias sudah pulih kembali. "Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan terimakasih kepada masyarakat internasional, termasuk Ceko, yang telah membantu memelihara Nias," ujar Retno.
Retno menjelaskan bahwa sejak dahulu Nias memang cantik, menarik dan misterius. Dia mengajak masyarakat Ceko untuk memanfaatkan Visit Indonesia dengan berkunjung ke Indonesia, termasuk Nias, untuk membuktikan keindahan pantai, pasir putih, dan ombaknya yang sangat menantang bagi para peselancar.
"Kecantikan dan keindahan Indonesia, khususnya Nias, siap menyambut Anda," demikian Retno.
Sementara itu Dirjen Museum Ceko Michal Lukes menyampaikan rasa gembiranya bahwa akhirnya Museum Kebudayaan Asia Afrika dan Amerika dapat menyelenggarakan Pameran Indonesia.
Seusai Nias, akan menyusul koleksi artefak dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Flores. Berbagai kegiatan kebudayaan pendukung, seperti pameran lukisan, foto dan benda seni lainnya juga direncanakan digelar di museum tersebut.
Lukes berharap pameran tersebut dapat meningkatkan persahabatan dan kerjasama kebudayaan antara Ceko dan Indonesia.
(es/es)











































