Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kembali mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan DPR untuk meratifikasi konvensi antitembakau.
"Negara kita itu penyelundup rokok karena harga rokok di negara kita jauh lebih murah daripada di negara lain. Di Thailand saja, cukai rokok mencapai 80%," kata Koordinator Penanggulangan Masalah Rokok YLKI Tulus Abadi.
Hal itu disampaikan Tulus sebelum acaraΒ aksi bertajuk "Sejuta dukungan masyarakat mendesak Presiden SBY dan DPR RI segera meratifikasi FCTC mengigat besarnya bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh konsumsi rokok" yang digelar di Gedung Juang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan dia, ratifikasi dapat melambungkan harga rokok. Oleh karena itu, YLKI berharap petani tembakau dapat mengubah profesi untuk tanaman yang lain sehingga Indonesia tidak lagi menjadi negara penyelundup rokok
"Dengan ratifikasi ini diharapkan petani tembakau Indonesia bisa melakukan konversi ke tanaman yang lain. Karena di samping nasibnya tidak menentu, industri besar kurang memperhatikan mereka," kata Tulus.
Menurut dia, industri besar bisa bertahan dalam 2 tahun dengan keuntungan penuh tanpa stok tembakau dari petani Indonesia. "30% Tembakau kita itu tembakau impor," ujarnya.
Saat ditanya apa ratifikasi dapat 'membunuh' petani rokok? "Industri rumahan hanya kedok saja. Mereka sebenarnya bekerja atas permintaan perusahaan besar. Industri rokok seharusnya dilokalisir. Jangan sampai terus mewabah," beber dia. (aan/iy)











































