Akhirnya sang ayah memindahkan Eluana Englaro (38) ke klinik swasta yang akan melepaskan mesin-mesin penunjang kehidupan Eluana sehingga wanita itu bisa meninggal.
Eluana telah berada dalam kondisi koma, vegetative state sejak kecelakaan mobil tahun 1992 silam. Tahun lalu pengadilan Millan, Italia memutuskan dia bisa dibiarkan meninggal. Alasannya, kondisi Eluana tidak bisa disembuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, Eluana telah diangkut dengan ambulans ke sebuah klinik di Kota Udine, Italia utara. Klinik itu merupakan satu-satunya rumah sakit di Italia yang setuju untuk mencabut tube makanan dan minuman yang dihubungkan ke tubuh Eluana.
Para aktivis anti-euthanasia memprotes keras hal itu. Pemerintah Italia pun menegaskan, pencabutan tube makanan sama artinya dengan euthanasia, yang merupakan tindakan ilegal di Italia.
Kecaman keras disampaikan pejabat Vatikan, Kardinal Javier Lozano Barragan. "Hentikan pembunuhan ini. Mencabut makanan dan air dari dia hanya berarti satu hal, yakni dengan sengaja membunuh dia," cetusnya seperti dilansir AFP, Rabu (4/2/2009).
Paus Benediktus XVI menolak keras euthanasia dan menyebut sebagai jawaban keliru atas penderitaan.
Ayah Eluana, Beppino Englaro, telah memperjuangkan kasusnya melalui pengadilan Italia selama lebih dari 10 tahun. Tujuannya cuma satu, agar putrinya yang koma berkepanjangan itu diizinkan meninggal.
Menurut para pakar medis, begitu tube makanan dicabut dari tubuh Eluana, bisa makan waktu sekitar 2 pekan sebelum akhirnya dia meninggal.
Kasus Eluana mirip dengan kejadian yang menimpa wanita AS bernama Terri Schiavo, yang selama 15 tahun terbaring koma. Dia akhirnya diizinkan meninggal pada tahun 2005 setelah perjuangan panjang di pengadilan AS. (ita/iy)











































