Di depan kantor Bank Syariah Mandiri di Jalan Slamet Riyadi misalnya, terdapat baliho ukuran besar bergambar sang ibu dan anak, Megawati dan Puan Maharani. Padahal lokasi tersebut termasuk kawasan yang disebut white area, sebuah kawasan yang tidak diperbolehkan memasang bendera partai maupun pemasangan gambar caleg.
Pastinya PDIP punya alasan untuk berkilah bahwa baliho tersebut bukan bagian dari 'iklan' caleg, meskipun Puan Maharani tercatat sebagai caleg nomor urut satu dari PDIP untuk Dapil Jateng V yang meliputi Solo, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat Rakernas yang lalu, semua peserta menginap di semua hotel di Solo yang lokasinya menyebar di seantero kota. Sebagai ketua panitia Mbak Puan merasa berkewajiban untuk memberikan ucapan selamat datang kepada para peserta itu," ujar Rudy, sapaan akrabnya.
Rudy yang saat ini juga menjabat Wakil Walikota Surakarta mengaku baliho-baliho itu akan segera diturunkan karena acara sudah selesai. "Pasti akan segera kami turunkan karena baliho itu dipasang dalam rangka Rakernas yang sudah berlangsung. Hanya mungkin kawan-kawan yang bertugas belum sempat mencopotinya," lanjut Rudy.
Tidak hanya di jalan-jalan, poster dan banner bergambar juga menghiasi sejumlah sudut The Sunan Hotel, tempat Rakernas diadakan. Bahkan di ballroom yang menjadi pusat semua kegiatan Rakernas foto sanga ketua panitia dalam ukuran besar juga tergelar di dinding. Demikian juga di ruang media center.
Sejumlah pihak memang menilai sejak awal Rakernas IV di Solo memang lebih bertujuan untuk konsolidasi partai menghangatkan mesin politik PDIP menjelang pemilu legislatif daripada tujuan mencari cawapres untuk disandingkan dengan Megawati.
Tujuan utama lainnya adalah mendorong Puan Maharani tampil ke depan dengan memberi kesempatan kepadanya tampil dalam ajang nasional di internal partai. Selain itu dipilihnya Solo sebagai tuan rumah Rakernas juga akan berdampak pada naiknya popularitas sang putri di daerah pemilihannya sendiri.
Penilaian dan analisa itu tidak dipungkiri oleh orang dalam sendiri. Hadi Rudyatmo menilai hal seperti itu sebagai suatu yang wajar. Menurutnya, Puan adalah salah seorang Ketua DPP PDIP dan juga ketua panitia Rakernas, sehingga wajar juga mendapat dampak popularitas setelah berhasil menunaikan tugas di Rakernas yang berjalan mulus.
"Nama Mbak Puan segera menjadi perhatian. Di internal partai, para peserta Rakernas semakin mengenal Mbak Puan lebih dekat. Di eksternal partai, calon pemilih di Dapil V juga semakin tahu Mbak Puan," ujar Bimo Putranto, Wakil Ketua DPD PDIP Jateng.
Bahkan, menurut Bimo Putranto, setelah Rakernas PDIP selesai sebuah survey dilaksanakan. Hasil survey itu menunjukkan bahwa nama Puan menduduki urutan teratas untuk tingkat keterpilihan dalam pemilu legislatif mendatang. Sayangnya, Bimo Putranto tidak menyebutkan siapa pembuat survey dan bagaimana metode yang digunakan.
Semua cara memang sah dilakukan untuk ajang promosi, apalagi di dunia politik. (mbr/djo)











































