Seandainya Pertolongan Datang Lebih Cepat

Ketua DPRD Sumut Meninggal

Seandainya Pertolongan Datang Lebih Cepat

- detikNews
Rabu, 04 Feb 2009 01:29 WIB
Seandainya Pertolongan Datang Lebih Cepat
Jakarta - Caci maki dan sumpah serapah pendemo ditujukan pada Ketua DPRD Sumut Abdul Aziz Angkat. Sedang yang bersangkutan hanya diam, berusaha keluar dari kepungan massa. Hingga kemudian seorang pria membawanya menjauh.

"Beliau kepayahan dicaci maki. Saat itu dari kaca ruang komisi B, saya melihat Pak ketua terkurung, sebagai kawan saya langsung keluar (dari Gedung DPRD) dan merangkul beliau yang sudah kepayahan dan lemas," kata anggota DPRD asal PAN, Azwir Sofyan saat berbincang melalui telepon, Rabu (4/2/2008).

Abdul Azis saat itu tengah berada di halaman gedung DPRD. Ribuan massa pro pembentukan Provinsi Tapanuli menuntutnya agar mengirim surat ke DPR meminta pemekaran. Tapi politisi Golkar yang baru 2 bulan menjabat itu menolak, yang berbuah kemarahan pendemo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya bawa ke ruangan fraksi, dari luar Gedung DPRD jaraknya sekitar 100 meter. Tapi tetap diuber-uber hingga ke ruangan," jelasnya.

Saat itu Azwir mengaku tidak melihat ada yang memukul, dia hanya fokus melindungi agar Abdul Azis bisa segera diselamatkan. "Memang saya merasa punggung saya ada memukul-mukul dan mendorong-dorong. Tapi saya tidak tahu dengan Pak Ketua, saya berusaha melindungi beliau," tutur anggota Komisi B DPRD bidang perekonomian ini.

Azwir mengaku 1 meter menjelang masuk ke ruangan Fraksi Golkar, Abdul Azis sudah tidak sadarkan diri. Dia terpaksa memapah masuk.

"Mereka sempat masuk ke ruangan fraksi, kaca sampai pecah, bahkan keranda masuk ke dalam, mereka terus meneror. Saya sudah menasehati mereka, tapi pendemo itu tidak peduli," jelasnya.

Di pangkuan Azwir, Abdul Azis sudah tidak sadarkan diri. Dia beserta seorang anggota DPRD lainnya memaksa agar dikirim regu kesehatan.

"Saat itu kami meminta tim medis dikirim cepat ke ruangan atau diberikan pertolongan sesegera mungkin untuk dibawa ke rumah sakit, bukannya saya melawan kehendak Tuhan, tapi mungkin ada harapan," urainya.

Sayangnya pertolongan yang diminta Azwir tidak urung datang. "Upaya sangat terlambat, alasan polisi kekuatan terbatas, dan kenapa juga dia tidak segera dibawa keluar, petugas mengatakan kekuatan tidak ada. Kalau ada kekuatan polisi, dia bisa keluar," sesalnya.

Hingga kemudian setelah 1 jam berada di ruangan, pukul 13.00 WIB, Abdul Aziz baru bisa dikeluarkan. "Kami menggotong ramai-ramai, nekat saja. Ada beberapa polisi dan satpam yang mengawal, tapi sepanjang jalan menuju truk tetap saja dilempari," tegasnya.

Tidak ada pesan yang ditinggalkan Abdul Aziz, Azwir yang saat itu mengenakan baju kotak-kotak hanya mendengar ucapan lemah yang dikatakan almarhum.

"Yang saya ingat hanya mengucapkan laailahaillallah, di gerbang kaca di depan kantor fraksi, beliau sudah pingsan sudah kritis, wajahnya sudah sudah pucat pasi," ulangnya.

Setelah dibawa ke luar ruangan, menggunakan truk polisi, Abdul Aziz dilarikan ke RS Gleni, Medan. Tapi ajal menjemput dia dinyatakan telah meninggal dunia, visum sementara menyebutkan akibat sakit jantung.
(ndr/her)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads