Sejak Januari, nelayan harus nombok untuk biaya solar dan perlengkapan melaut seperti es balok dan umpan gara-gara tangkapan ikan mereka menurun.
"Sudah biasa nombok dari tahun ke tahun. Tapi masih mending begitu daripada tidak melaut, nggak ada duit berputar sama sekali," kata Yanto, salah satu Ketua Paguyuban Nelayan Muara Angke, di Perkampungan Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (2/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sambil menunggu, nelayan bekerja serabutan untuk tetap mengepulkan asap dapur. Selain itu, mereka juga membuka celengan, menggadaikan perhiasan, arisan, sampai mengutang tengkulak.
"Intinya di dapur tetap ada yang dimasak," ucap Yanto.
Dengan pola hidup seperti itu dan berulang tiap tahun, masyarakat pesisir semakin sulit lepas dari belilit kemiskinan. Terbukti, generasi kedua ataupun ketiga yang belum juga belum beranjak menjadi lebih baik.
"Di sini sedikit yang sampai sarjana. Jadi pengusaha ya cuma satu dua, itupun sekadar juragan pengepul," pungkas Yanto.
(Ari/iy)











































