Korban Banyak Pengusaha, Modusnya Tukar Dolar Palsu ke Bank

Tersangka Upal Dibekuk

Korban Banyak Pengusaha, Modusnya Tukar Dolar Palsu ke Bank

- detikNews
Jumat, 30 Jan 2009 17:20 WIB
Korban Banyak Pengusaha, Modusnya Tukar Dolar Palsu ke Bank
Jakarta - 21 Tersangka uang palsu (upal) melakukan penipuan terhadap sejumlah pengusaha. Modusnya dengan menawarkan dolar melalui SMS, dan banyak pengusaha yang tertipu.

"Korbannya banyak pengusaha yang ditawarin melalui SMS. Mereka punya banyak kenalan pengusaha," kata Direktur Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Pol Raja Erizman dalam jumpa pers di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta, Jumat (30/1/2009).

Raja mengatakan, selain penipuan melalui pengusaha, para tersangka menukarkan upal tersebut di bank atau melakukan penipuan dengan berpura-pura memiliki dolar asli dan ditukarkan ke orang-orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada juga dengan dolar hitam. Pertama untuk meyakinkan korbannya itu, uang dolar hitam itu dikasih cairan akhirnya jadi uang dolar asli. Pada saat korban percaya, mereka minta lagi. Akhirnya disuruh bayar dulu pakai dolar juga. Ia harus beli cairannya dengan dolar juga. Tetapi dikasih dolar yang palsu," ujarnya.

Ada kemungkinan pihak-pihak bank juga bermain?


"Kita coba selidiki ke arah situ," jawabnya.

Para tersangka tersebut diketahui bernama Indra Mulya Hasibuan alias Benny Hasibuan, Khairudin alias Herman, Bobby, Anto, Ustad, Haji Nurman, Ian, Martin, Freedy, Sudarmanto, Ali Akbar, Farsin Safan, Mahlil Siregar, Pandangan Panjaitan, Imam, Daman.

"Dari mereka disita uang kertas hitam 39 pak," imbuhnya.

Sedangkan para tersangkan yang ditangkap di Polsek Cipondoh yakni Sari Sagita alias Sari, Musa alias Zainal, Mudini alias Aki, Syafuan alias Iwan, dan Imron.

"Dari mereka disita uang pecaan Rp 100 ribu sebanyak 3.548," tandasnya.

Dari tersangka Bobby ditemukan sejumlah kartu anggota partai. Kemungkinan dia sering berhubungan dengan orang-orang partai. Peredaran uang palsu mereka di luar Jakarta yakni Bogor, Cilegon dan sekitarnya.

"Jaringan ini sendiri sudah beroperasi selama 3 tahun lebih," katanya. (gus/iy)


Berita Terkait