Profesor Dokter Munar Lubis selaku ketua tim mengatakan, tim tersebut berjumlah sedikitnya delapan orang, terdiri dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan ahli bedah.
Untuk sementara, tugas tim dokter masih seputar pemantauan kondisi kesehatan sang bayi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil diagnosa sementara, imbuh Munar, secara fisik, Marwati 1 dan Marwati 2 memiliki tubuh satu, berkepala dua, mempunyai dua jantung yang saling melekat dan dua tulang belakangn yang menyatu pada bagian bawah.
"Tetapi Marwati 1 tidak memiliki atrium atau rongga jantung yang lengkap. Bayi ini hanya punya satu rongga jantung yang menyatu. Dari literatur yang ada, pemisahan bayi ini memiliki kesulitan yang sangat tinggi," ujar Munar.
Pemisahan dini dinilai dapat mengancam keselamatan bayi. Selain kondisinya belum stabil, sejumlah organ dalam sebagian besar menyatu. Pihak rumah sakit juga belum membicarakan rencana pemisahan bayi kepada orangtuanya.
"Kita utamakan kesehatannya dulu baru cerita tentang operasi," tegas Munar.
Kondisi kesehatan Marwati 1 dan Marwati 2 di hari ketiga relatif baik. Keduanya mendapat perawatan di ruang Pediatric Intesive Care Unit (PICU), lantai 3 RSUP Adam Malik, Medan.
Marwati 1 dan Marwati 2 merupakan anak ketiga dari pasangan Mugiono Wahid dan Marwati, warga Julok Rayeuk Utara, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kedua orangtua bayi sehari-hari bekerja sebagai buruh perkebunan PTPN-I Langsa.
Bayi Marwati 1 dan Marwati 2 lahir di RS Cut Meutia, Langsa, Minggu 25 Januari 2009 sekitar pukul 10.30 WIB dengan berat 4,6 kilogram melalui proses bedah caesar.
Bayi ini sempat dirujuk ke RS Tembakau Deli, Jl. Putri Hijau Medan. Akibat keterbatasan alat dan ketersediaan dokter ahli, keduanya kemudian dirujuk ke RSUP Adam Malik. (rul/nwk)










































