Hal ini diungkapkan Sekretaris DPD Organda DKI Jakarta TR Panjaitan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2009).
"Terus terang, pendapatan pengusaha angkota itu 20 persennya habis untuk pungli," jelasnya ketika menerangkan alasan pengusaha angkutan umum menolak penurunan tarif angkutan sebesar Rp 500.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu baru estimasi dengan jumlah setoran pungli yang paling kecil. Dalam satu hari ada yang bisa menyetor Rp. 30.000," keluhnya.
"Itulah, makanya kita sebetulnya oke saja kalau diturunkan Rp 500, tapi retribusi dan punglinya dihilangkan. Saya kok yakin, pungli nggak akan bisa dihapus," sindirnya.
Lantas, siapa pelakunya? "Yang jelas ada dua pihak, oknum yang berwenang dan preman. Tapi saya ngga bisa bilang siapa," ujarnya sambil tertawa.
(Rez/nrl)











































