"Sudah ada hotel yang mengambil langkah itu (menurunkan tarif)," kata Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Njoman Suwidjana di Bali Tourism Board, Jalan Puputan Raya Renon, Denpasar, Selasa (27/1/2009).
Namun langkah penurunan tarif tersebut mendapat reaksi negatif dari pelaku wisata di Bali. Bahkan, PHRI mengecam sikap beberapa pihak yang mulai menurunkan tarif secara sepihak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suwidjana meminta agar pemilik hotel tidak menurunkan tarif meskipun terjadi penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali. Menurutnya, tanpa harus menurunkan tarif pun hotel di Bali masih bisa beroperasi. Alasannya, tingkat hunian saat ini masih berada di atas 50 persen. Bahkan hotel yang beroperasi sejak lama sudah mampu mencapai BEP (break even point) atau balik modal hingga 70 persen.
Untuk mengantisipasi penurunan tarif secara sporadis, PHRI akan membahas permasalahan ini pada Musyawarah Daerah PHRI Bali XII pada 31 Januari di Ubud, Gianyar.
Rencananya, dalam Musda tersebut PHRI menghimbau pemilik hotel tidak menurunkan tarif karena langkah tersebut dinilai akan merugikan pariwisata Bali. (gds/nrl)











































