Selasa (27/1/2009) siang, puluhan ibu-ibu dari Yogyakarta tiba di Kompleks Astana Giribangun, Karanganyar. Setelah melapor ke penjagaan, mereka menuju ke tempat peristirahatan untuk menunggu giliran masuk makam. Selain itu mereka juga menunggu satu rombongan lainnya yang tertinggal karena bus yang ditumpangi mengalami kerusakan di kaki bukit.
Hari ini jelas bukan hari libur. Namun pengunjung ke makam Giribangun, tempat Soeharto dimakamkan, memang selalu berdatangan. Pada hari libur jumlah peziarah memang melonjak, tapi di hari kerja pun tak sedikit pula yang datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Angka itu jelas tidak bisa dibandingkan karena memang tidak seimbang. Lonjakan peziarah terjadi setelah Bapak (Soeharto) wafat. Pada libur Imlek kemarin, dari Sabtu hingga Senin saja jumlah peziarah mencapai 8.457 orang," ujar Sukirno kepada detikcom di Astana Giribangun, Selasa (27/1/2009).
Para pengunjung yang datang juga bukan hanya datang dari sekitar Solo saja. Bahkan dari catatan yang ada di pengurus makam, kunjungan terbesar berasal dari Jawa Timur, disusul kemudian dari Kalimantan. Ini menunjukkan bahwa pengunjung yang datang bukan orang-orang sekadar mampir saja.
Paling banyak datang adalah ibu-ibu dari kelompok pengajian, lalu disusul anak-anak sekolah, keluarga dan selanjutnya pribadi-pribadi termasuk para pejabat dan mantan pejabat.
"Sebagian besar adalah orang-orang yang secara tulus ingin mendoakan Bapak, selebihnya adalah rombongan wisata ziarah yang ingin melihat secara langsung makam Bapak," ujar Sukirno.
Peziarah yang datang ke Giribangun hari ini memang termasuk cukup banyak. Dari pengamatan detikcom, sejak pagi hingga siang selalu saja ada yang datang silih berganti memasuki Cungkup Argosari, tempat Soeharto dimakamkan berdampingan dengan istrinya, Tien Soeharto.
Tapi apakah mereka menyadari bahwa hari ini tepat setahun Soeharto wafat? Jawaban dan ekspresi mereka sepertinya kompak, terbengong-bengong lalu kembali bertanya. "Apa iya hari ini setahun Pak Harto wafat? Saya malah tidak tahu. Kami ziarah hari ini ya karena memang hari ini longgar saja," ujar Sukamto asal Sragen, yang datang bersama istrinya.
Jawaban hampir sama juga disampaikan oleh rombongan ibu-ibu dari Yogyakarta tadi. Demikian juga jawaban dari beberapa mahasiswa sebuah universitas swasta di Solo sekeluar mereka dari cungkup makam Soeharto. Sebelumnya cukup lama para mahasiswa itu terpekur di kaki pusara sang mantan penguasa. (mbr/asy)











































