"Rokok itu membuat lapangan pekerjaan jutaan orang, dari yang berkebun tembakau,
buruh pabrik, hingga yang berdagangnya. Jadi, lebih banyak yang mana, rokok yang
membuat orang mati atau menghidupi orang," kata Jalaluddin melalui sambungan telepon Senin (26/1/2009) sore.
Jalaluddin berpendapat rokok itu lebih banyak menghidupi manusia dibandingkan membuat mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
di dalam rumah tangga. Secara psikologi, mereka yang merokok itu sebagian sebagai
pelarian emosi, pengobatan, broken home. Jadi, mengharamkan rokok tidak
menyelesaikan persoalan yang ada. Mereka yang terkena sakit jantung itu kebanyakan
lantaran pikiran dibandingkan asap rokok," terangnya.
Jadi, lanjutnya, lebih baik merokok itu sifatnya makruh saja. "Kalau masih membantu seorang penulis, menghilangkan stres, ya tidak apa-apa," tutupnya. (tw/ndr)










































