Kronologis Kericuhan di Pati Versi Semen Gresik

Kronologis Kericuhan di Pati Versi Semen Gresik

- detikNews
Sabtu, 24 Jan 2009 17:50 WIB
Jakarta - Warga Desa Kedungmulyo menegaskan aksi kekerasan yang mereka lakukan terhadap tim survei Semen Gresik merupakan reaksi dari tindakan refresif aparat. Namun hal itu dibantah oleh pihak Semen Gresik.

Dalam siaran pers yang diterima detikcom, pihak Semen Gresik menilai, aksi kekerasan warga tersebut sangat terencana. Hal tersebut berdasarkan data dan temuan di lapangan,

"Kami tegaskan sekali lagi, bahwa ke-13 karyawan PT Semen Gresik yang sedang melakukan survey adalah korban kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok warga yang mengatas namakan massa,"  kata Kadiv Komunikasi PT Semen Gresik ( Persero)  Saifuddin Zuhri dalam siaran persnya, Sabtu (24/1/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Saifudin, Rabu 21 Januari, pukul 09.00 WIB ratusan warga Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati mendatangani kantor kades Kedumulyo. Warga ingin bertanya tentang kejelasan  tanah bengkok untuk pendirian pabrik semen.

Namun Kades tidak ada sehingga warga hanya ditemui perangkat desa lainnya. Warga kecewa, poster dan teriakan menghujat Semen Gresik dilakukan sepanjang jalan. Di tempat terpisah, beberapa ratus meter di pinggir jalan besar Sukolilo-Pati, terdapat sosialisasi antara pihak Semen Gresik dan Pemkab Pati kepada warga yang setuju dan tanahnya bakal dijual untuk pendirian pabrik.

Pada pukul 12.00 WIB, warga terus berorasi dan menghujat kades Kedumulyo dan Semen Gresik yang dituding mencaplok tanah bengkok. Dengan pengawalan polisi berpakaian preman, warga meninggalkan kantor desa. Para pendemo tidak hanya laki-laki, tapi diikuti oleh anak-anak dan ibu-ibu membawa poster.

"Gerakan ini sudah tampak terkoordinasi," ujar Saifudin.

Kamis 22 Januari, pukul 09.00 WIB,  warga Dukuh Puri, Kedumulyo bertemu beberapa mobil Semen Gresik yang akan melihat rencana lokasi pabrik. Pada saat itu sudah ada tanda-tanda bakal ada gerakan, karena beberapa warga mengingatkan rombongan agar berhati-hati, karena desa sedang dalam keadaan situasi panas. Namun  mobil berbalik untuk meninggalkan lokasi justru dihadang warga.

Pukul 10.30 WIB, di seluruh desa sudah tersiar kabar ada penahanan 5 mobil Semen Gresik karena masuk desa Kedumulyo tanpa izin. Padahal mereka sudah mendapatkan dari Asisten II Ekonomi Pemkab Pati, kades Kedumulyo, Camat Sukolilo. Di rumah Kades inilah justru ketemu Danramil dan jajaran Polres.

Massa terus datang dengan mengatakan, rombongan inilah yang akan mencaplok tanah desa. Dalam aksi penghadangan, warga menuntut agar dipertemukan dengan Kades untuk mengetahui kejelasan pembebasan tanah bengkok.  Pihak Kades dan Camat melalui mediator dari Polsek Sukolilo menyatakan Kades tidak ingin menemui karena warga datang dalam jumlah besar dan tidak semuanya warga Kedumulyo.

Pukul 11.00 WIB, konsentrasi massa semakin banyak dari berbagai desa. Sambil menunggu konfirmasi bertemu dengan kades, warga meminta rombongan Semen Gresik membuat surat pernyataan yang isinya agar tidak melakukan tindakan apapun atau memasuki wilayah Kedumulyo sebelum ada surat persetujuan warga. Mereka meminta Semen Gresik tidak melakukan aktivitas apapun, sampai tim penelitian yang dibentuk oleh Gubernur Jateng terbentuk. Akhirnya di bawah tekanan massa, rombongan Semen Gresik membuat surat pernyataan dilampiri dengan KTP masing-masing.
 

Pukul 12.45 WIB, warga tetap menuntut kedatangan Kades Kedumulyo. Kades enggan menemui warga karena konsentrasi massa tak hanya datang dari Kedumulyo. Kades hanya mau menerima perwakilan warga. Karena Kades tak juga datang, massa akhirnya berinisiatif untuk menjadikan ke-13 karyawan SG sebagai sandera  agar kades datang.

Pukul 13.00 WIB, Camat akhirnya berinisiatif agar perwakilan warga saja  yang bicara, tapi permintaan ini ditolak. Para sandera tidak boleh keluar dari mobil. Di dalam mobil itu mereka terkurung selama 10 jam.
 

Pukul 15.00 WIB, kelompok pendemo mulai memanfaatkan anak anak dan iibu ibu sebagai bumper mengelilingi 5 mobil yang dihadang. Mereka justru datang secara tiba-tiba dengan menumpang truk. Terlihat jelas sebuah upaya pengerahan massa yang terorganisasi.

Pukul 16.00 WIB, warga tetap ngotot agar Kades Kedumulyo datang ke tempat tersebut sambil membuat surat pernyataan.  Cara perwakilan warga tidak disetujui karena kesepakatan harus disetujui oleh semua penduduk. Akhirnya negosiasi benar-benar mengalami jalan buntu.
 
Pukul 17.00 WIB, bantuan keamanan dari Polri datang. Kerumunan warga dari berbagai desa makin banyak, beberapa orang melakukan provokasi dengan megaphone dan terus merangsek. Sebagian aparat menunggu bantuan dari Polres Pati  Sementara hari mulai gelap dan situasi makin mencekam.

Pukul 18.40 WIB, sekitar 100 pasukan Brimob mengevakuasi para sandera dengan cara menyibak massa, karena perundingan buntu. Dalam peistiwa itu, 4 mobil Semen Gresik hancur karena lemparan batu, dan 9 warga ditangkap  13 anggota keamanan (Brimob) menderita luka.
(djo/djo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads