Charles Silver menceritakan, dia berdinas di Kedubes AS di Jakarta pada 1969. Dia berujar kalau saja saat itu dia bisa bertemu dengan Obama. Obama menetap di Jakarta selama 3,5 tahun sejak 1967.
"Kita kapan-kapan harus main ke lingkungan lama saya," jawab Obama dalam bahasa Inggris seperti dilansir ABC News, Jumat (23/1/2009). Perbincangan selanjutnya dilakukan dalam bahasa Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda tinggal di Menteng. Itu bagian kaya. Kalau saya tinggal di Menteng Dalam, which means Below Menteng," jawab Obama.
Dalam obrolan ini, Obama selalu tersenyum lebar dan para staf Deplu tak henti-hentinya tertawa mendengar obrolan ringan ini.
Menteng Dalam memang tidak semewah Menteng, kawasan elit di Jakarta. Dalam buku keduanya yang dalam bahasa Indonesia diberi judul "Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih", Obama menulis kisah masa kecilnya yang tidak gemerlapan saat menetap di Menteng Dalam. Saat itu ayah tirinya, Lolo Sutoro, berpangkat letnan. Berikut kutipannya:
"Keluarga kami belum berkecukupan pada tahun-tahun awal itu, angkatan bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji besar. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, tanpa pendingin udara, kulkas atau toilet siram. Kami tidak mempunyai mobil -- ayah tiri saya mengendarai sebuah sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum lokal setiap pagi ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Tak punya uang untuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya bersekolah di sekolah-sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis," cerita Obama. (nrl/gah)











































