Presiden Tak Perlu Hafal Sumpah, Tapi Perlu Alat Ukur Janji

Presiden Tak Perlu Hafal Sumpah, Tapi Perlu Alat Ukur Janji

- detikNews
Kamis, 22 Jan 2009 16:39 WIB
Jakarta - "Di Indonesia sumpah dibaca dan tidak hafal? Pantesan saja para presiden di Indonesia pada lupa dengan sumpahnya."

Begitulah komentar pembaca terkait perbedaan metode sumpah presiden di AS dan di Indonesia. Tanggal 20 Januari, Presiden Obama sempat terdiam menyadari kesalahan ucapan sumpah Ketua MA yang menyumpahnya. Obama terdiam sesaat karena dia tentunya hafal urutan kata-kata sumpah 35 kata itu.

Apakah menghafal sumpah jabatan seperti di Amerika perlu ditiru agar pejabat kita selalu ingat pada sumpah jabatannya? "Tidak ada korelasi bahwa yang menghafal itu bakal lebih baik dan sebaliknya," komentar pengamat korupsi Zaenal Arifin Mochtar kepada detikcom, Kamis (22/1/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Zaenal, adanya tolok ukur untuk sumpah/janji jabatan lebih dibutuhkan. Dengan mekanisme itu, presiden atau pejabat yang tidak menepati janji dan sumpahnya dapat ditindak.

"Kita kan nggak punya. Dulu SBY janji tidak akan menaikkan BBM tapi ternyata naik juga. Dia kan nggak bisa dihukum," ujarnya.

Zaenal mengatakan, satu-satunya alat ukur yang ada untuk presiden hanya mekanisme 5 tahunan. "Itu pun hanya pemilu dan itu terlalu lama karena ingatan masyarakat yang pendek dan konteks pemilu di Indonesia yang tidak terlalu menarik," katanya. (ken/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini