Demikian pengakuan pengusaha lilin dan hio, Dwiyono Suhendro, warga Jl Cilosari Semarang Timur, Semarang, Jateng.
Pengusaha keturunan Tionghoa itu menyebutkan, pesanan datang dari Semarang dan berbagai daerah seperti Tuban, Jepara, dan bahkan Kalimantan.
"Menjelang Imlek ya bisa naik 100 persen. Karena kebutuhan lilin dan hio memang tinggi," katanya ketika ditemui di rumah yang juga tempat usahanya itu, Kamis (22/1/2009).
Dwiyono menyatakan, lilin dijual dengan harga Rp mulai 45 ribu hingga Rp 30 juta. Harga tergantung besar atau tingginya lilin.
"Yang paling mahal berukuran tinggi 2,4 meter. Bisa nyala selama setahun penuh. Itu Rp 30 juta," ungkapnya.
Dwiyono sudah memulai membuat lilin dan hio sejak tahun 1993. Menurut dia, selama ini, pasokan bahan baku didapat dari impor.
"Bahan dari dalam negeri sulit didapat. Mau nggak mau ya harus impor," ujarnya enteng.
Saat ini, aura Imlek di Semarang sudah cukup terasa. Klenteng dibersihkan dan kawasan Pecinan disiapkan sebagai pusatย beragam acara. (try/djo)











































