"Sampai dengan 2007, tingkat kebocoran air PT Palyja sebesar 47,6 persen. Padahal target yang dicanangkan sebesar 35,4 persen," ujar Koordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA) Hamong Santono dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (20/1/2009).
Menurut Hamong, tingkat kebocoran di PT Aerta pada 2007 sebesar 53,15 persen. Sedangkan target yang dicanangkan sebesar 40,59 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hamong menegaskan, buruknya penyediaan air di Jakarta sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun dan diperkirakan akan terus berlanjut. Meski demikian, masyarakat tetap diminta membayar mahal atas layanan 2 operator swasta tersebut.
Hamong menilai, privatisasi air di Jakarta gagal. Karena itu, pihaknya mendesak Pemprov DKI Jakarta untuk menghentikan kerjasama layanan air bersih PT Palyja dan PT Aerta.
"Pemprov harus ambil penyediaan air bersih baik dari sisi finansial dan management," tandas Hamong.
(nik/nrl)











































