Lelaki dalam karung itu mulai bergoyang di tengah kerumunan warga yang menyemut di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin 19 Januari 2009.
Sambil berjingkrak-jingkrak seperti orang kesurupan, lelaki itu fasih menyebut warna mobil yang melintas di samping tanah lapang di Jalan Petamburan III. Semua warna mobil yang ditebaknya tepat dan tidak ada yang meleset.
Tidak hanya itu, lelaki yang masih terikat dalam karung itu lalu menebak warna baju para penonton. Dia juga mengetahui penonton mana yang sedang merokok dan mana yang tidak.
"Ini bukan sulap. Ini Gaib, gabungan ilmu batin," kata pimpinan rombongan
sekaligus aktor utama pertunjukan, H Bahrudin.
Dengan perkakas seadanya, pertunjukan itu dilanjutkan. Lelaki dalam
karung ditutup tenda "dome" yang telah disiapkan. Dengan sekali menjentikkan jari, tenda itu bergetar dan bergoyang seperti punya roh.
Saat tenda dibuka, lelaki dalam karung pun tampak duduk manis. Raut wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kesurupan atau pun dihipnotis. Sementara karung serta tali telah lepas di samping pemuda tersebut.
"Sangat menyenangkan kayak di televisi," kata Salimah (26), seorang penonton sambil menggendong anaknya.
Bahrudin memang bukan ahli sulap tenar yang kerap muncul di televisi. Dia
hanya guru ngaji asal Makassar. Bersama 4 pembantunya, ia sedang 'ngamen' keliling Sumatera dan Jawa.
Rombongan kecil itu hanya bermodal alat sulap seadanya, 3 ular piton dan
satu mobil kijang. Bila malam tiba, rombongan menginap di hotel sederhana dan murah di kota yang dikunjungi.
"Ini bukan pertunjukan komersil. Tetapi menghibur masyarakat," ujar Bahrudin.
Penonton tidak dipungut biaya tiket melainkan hanya saweran seikhlasnya.
Tontonan ini cukup menghilangkan dahaga warga yang kesulitan memperoleh
hiburan murah dan memikat di jantung Jakarta. (Ari/aan)











































