"Kebijakan itu mengorbankan masyarakat miskin dan bodoh. Untuk sekolah bagus, nilai segitu (rata-rata 5,5) mudah. Tapi untuk sekolah pinggiran, nilai segitu susah," jelas pengamat pendidikan Darmaningtyas kepada detikcom, Senin (19/1/2008).
Lantas, apa penyebab pemerintah demikian keukeuh terhadap kebijakan ini? "Itu karena perbedaan paradigma. Pemerintah meyakini bahwa mutu pendidikan dapat diukur melalui ujian. Sementara kami-kami yang menolak menilai ujian hanya mengukur satu aspek saja, yaitu kognitif. Aspek afektif dan psiko motoriknya tidak," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa penyebabnya? "Masalahnya, orang tidak ingin dikatakan gagal. Kepala Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan guru tidak mau dibilang gagal. Ini masalah harga diri," pungkas penulis buku 'Pendidikan yang Memiskinkan' tersebut. (alf/anw)











































