Hal ini terlihat berdasarkan pantauan detikcom di salah satu toko di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Minggu (18/1/2009). Keramaian dan antusiasme pengunjung tampak jelas, mereka asyik memilih dan menawar barang-barang keperluan imlek.
Aksesori yang ditawarkan antara lain lilin, dupa, kembang api, pakaian khas China, kue keranjang, dan pernak-pernik. Selain aroma dupa yang menyengat, toko tersebut juga disemarakkan dengan percakapan dalam Bahasa Mandarin yang terjadi antara penjual dan pembeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wayo mae pain sen te tung se (saya mau beli perlengkapan sembahyang)," jawab pengunjung itu.
Meski perayaan Imlek masih seminggu lagi, toko itu sudah diserbu pengujung. Bahkan beberapa barang sudah ludes terjual. Bisnis yang cukup menjanjikan ini menghasilkan omzet mencapai Rp 20 juta/hari.
"Menjelang hari raya ini memang banyak pengunjung berdatangan untuk beli pernak-pernik imlek. Saat ini barang-barang sudah hampir kosong. Seminggu sebelum hari raya omzet kita mencapai Rp 20 juta/hari," ujar pemilik toko Ceria Uniq, Elis Susanan.
Mengenai harga sangat variatif, tergantung dari ukuran dan kualitas barang. Untuk sepasang lampion, harganya berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 600 ribu. Untuk aksesori naga berkisar antara Rp 60 ribu hingga Rp 600 ribu.
Pernak-pernik itu, menurut Elis, memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa. Misalnya lambang naga yang menggambarkan kejayaan, replika buah jeruk yang melambangkan kesejahteraan, dan lampion yang melambangkan terang atau cerah.
Seraya merapikan barang-barang dagangannya, Elis bercerita mengenai arti warna merah yang mendominasi saat perayaan imlek. "Warna merah melambangkan kebahagian. Imlek harus dirayakan dengan kebahagian," jelasnya.
Sementara itu para pedagang asongan pun mendapat berkah menjelang perayaan imlek. Pedagang musiman ini menjajakan dagangannya dengan berkeliling di sekitar kawasan Glodok.
"Lumayan, Rp 300 ribu sehari. Semakin dekat dengan hari raya semakin naik penjualan," kata salah satu pedagang asongan bernama Asep.
Terkena Dampak Krisis
Barang-barang yang dijual di toko milik Elis semuanya berasal dari China. Karena itu ketika krisis ekonomi global menerpa, bisnis yang telah dijalaninya selama 6 tahun itu juga terkena imbasnya.
Importir dari China yang biasa mengirim barang mengurangi pasokannya. Akibatnya, Elis kekurangan stok barang untuk dijual. Selain itu, pelanggan yang biasa membeli dalam jumlah banyak juga menyusut.
"Meski begitu, saat ini banyak peminat baru yang menjadi pelanggan kita," ungkapnya. (mpr/sho)











































