"Andaikata gencata senjata dilakukan, Indonesia menawarkan pasukan pengawas supaya tidak ada lagi serangan-serangan di sana," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberi sambutan pada puncak Rakornas dan Anugerah Zakat pada Milad Baznas ke-8 di Hotel Bumikarsa, Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2008).
Pada kesempatan tersebut, SBY mengaku kecewa terhadap Dewan Keamanan PBB yang lamban mengeluarkan resolusi supaya Israel dan Hamas menahan diri. Apalagi, resolusi nomor 1860 tersebut tidak digubris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maksud saya, biarkan sidang tersebut mendengar suara bangsa-bangsa di dunia untuk pemulihan dan ketertiban di sana," tandasnya.
SBY mengatakan, apa yang terjadi di Galur Gaza merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak pernah dapat terbayangkan. Agresi militer Israel di wilayah itu dinilainya sudah melampaui batas.
SBY kembali mengajak rakyat Indonesia untuk terus menyumbangkan bantuan bagi korban di Palestina. Namun, sebaiknya bantuan tersebut disalurkan sesuai dengan kebutuhan rakyat Palestina saat ini.
"Ada yang mengatakan kenapa kita tidak mengirim sukarelawan. Saya terus komunikasi dengan para pemimpin di Timur Tengah. Yang diperlukan bukanlah senjata, bom, tank, atau serangan udara. Yang mereka butuhkan adalah makanan, obat-obatan, alat-alat kesehatan, dan listrik," pungkasnya. (irw/asy)











































