Sejarahwan LIPI Asvi Warman menganggap pernyataan Sukardi bertentang dengan fakta sejarah. Namun pernyataan itu dinilai sah-sah saja.
"Itu boleh-boleh saja. Saya menganggapnya sebagai mitos," ujar sejarahwan LIPI Asvi Warman Adam saat dihubungi detikcom, (16/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah Ibu Tien wafat, sebagian masyarakat Jawa menganggap 'wahyu' untuk Soeharto sudah diambil," jelasnya.
Asvi mengatakan, mitos tetaplah bagian dari sejarah untuk sebagian masyarakat. Namun, mitos itu tidak disertai fakta-fakta yang bisa diverifikasi.
"Buktinya-buktinya tidak selengkap sejarah, tapi tetap berkembang dari berbagai kepentingan penguasa. Mitos juga bisa dilihat dari babat (tanah jawi) yang mengagungkan raja, tapi narasinya sulit diverifikasi," jelasnya.
Lebih jauh Asvi menjelaskan, mitos tetaplah diperlukan oleh masyarakat modern. Karena mitos bisa memberikan sebuah harapan.
"Masyarakat modern juga bagian dari masyarakat tradisional yang sebagian masih memercayai Ratu Adil dan Satrio Piningit. Hal itu membuat masyarakat nyaman dan ada harapan. Tapi kenyataan tidak demikian, kalau tidak didukung oleh fakta sejarah," paparnya. (lrn/iy)











































