"Lumayan, daripada menganggur, " kata Uci, panggilan pria Madura itu, Jumat (16/1/2009).
Di samping kiosnya, puluhan rumah sedang dibangun ulang. Sebab rumah sangat sederhana tersebut baru saja dihantam ombak Selasa (13/1/2009) lalu. Menurut Lurah Pluit Sugiharto Timbo waktu itu, jumlahnya mencapai 140 bangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampung Baru Blok Empang itu memang rawan terhadap ombak besar. Selain langsung menghadap laut Jawa, sudah tidak ada penahan lagi selain tanggul beton setinggi 1 meter. Penahan alam berupa mangrove (bakau) sudah habis dibabat.
Kondisi serupa menghantui sepanjang pesisir Jakarta. Dari Angke, bergeser ke timur menuju Muara Baru, Ancol, Priok, Cilincing hingga Marunda, tak ada lagi tanggaul alam, si bakau tadi.
Ombak besar hanya ditahan dengan tumpukan batu kali, memanjang menahan ombak. Praktis namun punya kelemahan, tidak dapat mengerem angin besar pembuat ombak tinggi.
Saat badai 2 hari (13 dan 14 Januari), pesisir itu kena batunya. Puluhan rumah di Marunda dan Cilincing rontok diterjang ombak. Begitu pula di perkampungan nelayan Angke. Kawasan Ancol yang biasanya haram terkena ombak besar, tidak luput dari amarah alam.
Persoalannya, akankah peristiwa ini terus berulang hampir tiap bulan purnama. Seharusnya pemerintah bertindak cepat dengan membuat kebijakan yang tepat untuk menyelamatkan pesisir Jakarta.
"Kalau saya, pengennya rumah saya tidak roboh lagi," harap Uci. (Ari/nrl)











































