Keluarga Korban Tragedi KM Teratai Prima Larung Sesaji ke Laut

Keluarga Korban Tragedi KM Teratai Prima Larung Sesaji ke Laut

- detikNews
Jumat, 16 Jan 2009 11:06 WIB
Keluarga Korban Tragedi KM Teratai Prima Larung Sesaji ke Laut
Makassar - Memasuki hari keenam tenggelamnya KM Teratai Prima di perairan Baturoro, Majene, Sulbar,  keluarga korban mulai pasrah menerima nasib kehilangan anggota keluarganya.

Salah satu cara  yang mereka tempuh adalah melaksanakan prosesi adat leluhur Maccera atau melarung sesaji di  tepi pantai Pangali-ali, Majene, Jumat (16/1/2009).  Sesaji yang disiapkan keluarga korban berupa telur  ayam beberapa butir dan satu ekor ayam jago yang disembelih di tepi pantai.

Prosesi larung dimulai pada pukul 10.00 Wita dari posko penampungan keluarga korban, di belakang kantor  Administratur Pelabuhan (Adpel) Majene menuju pantai Pangali-ali. Keluarga korban melarung sesaji setelah diberi  petunjuk lewat telepon dari seorang dukun di Pinrang.

Keluarga korban lalu memulai prosesi Maccera di posko penampungan  ke pantai Pangali-ali yang berjarak sekitar 100 meter. Sesampai di pantai Pangali-ali,  sesaji dari telur ayam lebih dahulu dilarung ke laut. Selanjutnya ayam jago yang sudah  disiapkan disembelih di tepi pantai, lalu dihanyutkan ke laut.

Menurut salah satu keluarga korban bernama Nursiah (45) asal Desa Mattiro Ade, Kec  Patampanua, Kab Pinrang, Sulsel, larung sesaji dilakukan sebagai bentuk permintaan kepada  "penjaga" laut Majene agar memunculkan jasad korban ke permukaan laut.

"Larung ini kami  laksanakan untuk membantu tugas Tim SAR dalam mencari anggota keluarga kami sejumlah 60-an  di lautan," ujar Nursiah yang ditemui detikcom di posko penampungan keluarga korban.

Sementara menurut Isaodah (39), ibu korban bernama Dedi asal Tarakan, Kalimantan Timur, larung adalah tradisi leluhurnya. Seekor ayam jago dan beberapa telur adalah  mahar pengganti kepada "penjaga" laut yang telah menyembunyikan anggota keluarganya.

"Kami  berharap penjaga laut mengembalikan keluarga kami bagaimana pun kondisinya, biar pemberian  kami yang menjadi penukarnya." pungkas Isaodah.

(mna/nrl)


Berita Terkait