Salah satu cara yang mereka tempuh adalah melaksanakan prosesi adat leluhur Maccera atau melarung sesaji di tepi pantai Pangali-ali, Majene, Jumat (16/1/2009). Sesaji yang disiapkan keluarga korban berupa telur ayam beberapa butir dan satu ekor ayam jago yang disembelih di tepi pantai.
Prosesi larung dimulai pada pukul 10.00 Wita dari posko penampungan keluarga korban, di belakang kantor Administratur Pelabuhan (Adpel) Majene menuju pantai Pangali-ali. Keluarga korban melarung sesaji setelah diberi petunjuk lewat telepon dari seorang dukun di Pinrang.
Keluarga korban lalu memulai prosesi Maccera di posko penampungan ke pantai Pangali-ali yang berjarak sekitar 100 meter. Sesampai di pantai Pangali-ali, sesaji dari telur ayam lebih dahulu dilarung ke laut. Selanjutnya ayam jago yang sudah disiapkan disembelih di tepi pantai, lalu dihanyutkan ke laut.
Menurut salah satu keluarga korban bernama Nursiah (45) asal Desa Mattiro Ade, Kec Patampanua, Kab Pinrang, Sulsel, larung sesaji dilakukan sebagai bentuk permintaan kepada "penjaga" laut Majene agar memunculkan jasad korban ke permukaan laut.
"Larung ini kami laksanakan untuk membantu tugas Tim SAR dalam mencari anggota keluarga kami sejumlah 60-an di lautan," ujar Nursiah yang ditemui detikcom di posko penampungan keluarga korban.
Sementara menurut Isaodah (39), ibu korban bernama Dedi asal Tarakan, Kalimantan Timur, larung adalah tradisi leluhurnya. Seekor ayam jago dan beberapa telur adalah mahar pengganti kepada "penjaga" laut yang telah menyembunyikan anggota keluarganya.
"Kami berharap penjaga laut mengembalikan keluarga kami bagaimana pun kondisinya, biar pemberian kami yang menjadi penukarnya." pungkas Isaodah.
(mna/nrl)











































