Buku itu dilaunching di Toko Buku Gramedia Yogyakarta di Jl Sudirman, Kamis (15/1/2009) puku 17.00 WIB. Ratusan pengunjung toko buku itu tampak meminati buku terbitan Galang Press setebal 174 halaman itu.
Selain diluncurkan, buku tersebut langsung dibedah oleh Sukardi Rinakit, anggota Tim Pelangi yang saat ini mendukung Sultan Hamengku Buwono X maju mencalonkan diri pilpres 2009. Hadir pula sejarawan Universitas Sanata Dharma, Dr Baskara T Wardaya, SJ, musisi Frangky Sahilatua serta putri Sultan, GKR Pembayun dan Nurmagupita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasca reformasi ini, kehadiran Sultan menarik untuk disimak. Lebih menarik lagi ketika 28 Oktober 2008 dia menyatakan kesiapannya manjadi presiden yang disampaikan dalam pisowanan ageng. Keputusan itu dilakukan setelah menempuh laku spiritual," kata dia.
Menurut dia, sebagai raja Jawa memegang teguh ungkapan sabda pandhita ratu. Sebagai sebuah sabda yang diucapkan seorang raja, tak boleh berubah-ubah. "Tan kena wola-wali (tidak boleh berbolak-balik-red). Artinya kalau sabda itu untuk presiden, mengapa harus berubah menjadi wakil presiden," ungkap Arwan.
Sementara itu, Sukardi Rinakit mengungkapkan pencalonan Sultan maju pilpres 2009 memang banyak mengundang reaksi beragam dari banyak pihak. Bahkan dari rakyat Yogyakarta sendiri banyak yang tidak setuju bila Sultan maju pilpres.
Sultan HB X cukup menjadi seorang raja Jawa dan menjadi gubernur Provinsi DIY. "Tapi kalau saya sebagai orang yang bukan dilahirkan atau dibesarkan di Yogyakarta, saya melihat betapa Sultan dielu-elukan oleh rakyat Indonesia di luar Jawa seperti di Sumatera, Kalimantan dll. Dia bisa memberikan perlindungan ketika Bhinneka Tunggal Ika itu terancam," kata Sukardi.
(bgs/ken)











































