Ucapan itu menyeruak tatkala Sutiyoso melakukan safari ke makam pendiri Majapahit, Raden Wijaya. Usut punya usut, ucapan Teguh beralasan. Kawasan makam seluas 1 hektar ini memang biasa dijadikan tempat tetirah para politisi. Utamanya yang hendak meraih kursi kekuasaan.
"Ya para politisi, para pinisepuh semuanya. Pemimpin negara seperti Pak Karno dan lain sebagainya. Dan Pak Harto sejak tahun 1961 sampai akhir selalu ke sini," ujar tokoh warga, M Maksun (68).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Abdurrahman, Bu Mega, dan Pak Yudhoyono juga pernah ke sini. Berziarah dan berdoa," lanjut Maksun.
Apa sebenarnya yang menjadi alasan para pemimpin politik mendatangi lokasi makam ini? "Ya mungkin di sini ada keajaiban," jawab Maksun polos.
Dalam komplek ini, makam Raden Wijaya dan istrinya, Dara Petak dan Dara Jingga, serta 2 dayangnya berada di dalam 1 lokasi. Makam ini ditembok dengan pagar, dengan 1 buah pohon besar di sisinya, yang juga dipercayai keramat penduduk sekitar..
Di luar tembok, masih ada beberapa makam lainnya, serta 1 buah sumur, dan tempat semedi bagi peziarah. Pastinya aroma wangi dupa tidak pernah hilang dari tiap sudut makam.
Tidak heran memang, makam ini biasa dikunjungi politisi, alasannya konon pula agar 'berkah' Raden Wijaya yang mampu menyatukan Nusantara bisa diperoleh mereka.
Bahkan konon, Soeharto kerap menyepi di makam ini sejak pangkatnya masih Letnan Kolonel. "Biasanya politisi datang tengah malam dan diam-diam," tutur seorang warga.
Seminggu lalu pun, mantan petinggi polisi datang dan berkunjung ke makam ini. "Lebih-lebih bulan Suro, banyak yang datang mulai dari warga sampai pejabat. Di sini memang terbuka," jelas Maksun.
Bagi Anda yang berminat datang ke sini, lokasinya pun tidak terlalu jauh. Dari Bandara Juanda, perjalanan ditempuh dengan hanya 2 jam perjalanan ke arah Mojokerto. Tiba di Mojokerto, akan ada petunjuk jalan yang mengarahkan Anda ke lokasi.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan detikcom, komplek makam ini tidak masuk ke dalam lokasi cagar budaya. Seorang perangkat desa yang enggan disebutkan namanya menyebutkan, biaya perawatan hanya mengandalkan dari sumbangan dari peziarah.
(ndr/nrl)











































