Pantauan wartawan detikcom Muhammad Nur Hayid yang melihat langsung praktek haram itu hanya bisa mengelus dada. Betapa tragisnya nasib jamaah haji Indonesia yang sudah membayar mahal tetapi selalu menjadi korban pungli oleh para sopir, tukang angkut barang dan petugas hotel tempat jamaah menginap.
Meski petugas haji yang tergabung dalam panitia penyelengara ibadah haji (PPIH) sangat ketat memperingatkan pada jamaah untuk tidak memberikan uang pada para sopir dan kuli angkut yang meminta-minta, jamaah haji Indonesia tetap saja tidak mau melawan pungli itu. Alasannya, mereka memahami seluruh pungli itu sebagai bentuk ujian dan sekaligus sedekah. Meskipun di dalam hati mereka ngerundel karena pungli itu terlalu sering dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praktek pungli ini misalnya menimpa jamaah haji kloter SOC (Solo) 81 yang berasal dari Boyolali dan Semarang. Menurut ketua kloter, Imam Gazali, Kloter SOC 81 dipungli sejak tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah dengan diminta memberikan uang lelah pada sopir yang mengangkut dari bandara ke pemondokan.
Wartawan detikcom membuktikan sendiri praktek pungli itu dengan ikut menumpang rombongan ini yang pulang dari Madinah menuju Jeddah sebelum dipulangkan ke Tanah Air.
Hasilnya, sejak penurunan koper jamaah dari berbagai kamar di Hotel Ajnahah Raudah (berjarak sekitar 300 meter dari Masjid Nabawi), jamaah kloter SOC 81 sudah dimintai sekitar uang 2 riyal oleh petugas hotel sebagai biaya menurunkan barang. Beberapa jamaah yang akan menurunkan barang sendiri ada yang mengaku dihalang-halangi.
"Saya bayar 1 riyal nggak mau, karena yang lainya pada bayar 2 riyal, katanya dengan bahasa isyarat. Ada teman yang mau menurunkan sendiri, tidak boleh," kata seorang jamaah yang tak mau disebutkan namanya.
Pungli terus berlanjut saat penimbangan barang di kopor besar. Jamaah haji diminta membayar 2 riyal oleh seorang kordinator dari jamaah sendiri untuk diserahkan pada petugas penimbang barang (mazro'i). Tujuannya, dengan membayar uang 2 riyal per jamaah, semua barang bawaan jamaah yang melebihi batas 32 kg/koper dapat tetap diangkut.
Sebelumnya, Ketua Kloter SOC 81 Imam Gazali sudah memperingatkan pada pada jamaah untuk tidak membayar seriyal pun jika diminta karena seluruh petugas sudah dibayar oleh muassasah. Namun karena ada inisiatif dari jamaah sendiri yang mengumpulkan dana untuk memudahkan penimbangan barang jamaah, Imam pun tak kuasa menahannya karena jamaah memahami urunan itu sebagai sedekah.
"Saya sudah sampaikan tapi sudah ada yang ngurusi sendiri, ya mau bagaimana lagi. Alasannya untuk kebersamaan dan kemudahan urusan. Dan itung-itung sedekah, katanya," terang Imam.
Jamaah haji yang kopornya kurang dari 30 kg juga mempertanyakan kebijakan membayar 2 riyal itu. Koordinator yang merupakan anggota jamaah itu sendiri mengatakan bahwa uang 2 riyal untuk mempermudah urusan dan menjaga kebersamaan dan sekaligus menjaga solidaritas. Mendengar alasan ini, jamaah yang barangnya sedikit hanya bisa mengalah meski hatinya menggerundel.
Pungli terus terjadi ketika jamaah haji meninggalkan Madinah. Perjalanan Madinah-Jeddah yang berjarak sekitar 500 km juga menjadi lahan subur bagi para sopir bus. Sopir meminta jamaah urunan uang tips. Padahal sopir-sopir itu sudah mendapatkan gaji dan uang saku dari muassasah yang bertanggung jawab mengangkut jamaah haji ke bandara.
Lagi-lagi jamaah harus menyetorkan uang sekitar 2 riyal/orang. Terkumpulah dana sekitar 100 riyal untuk diberikan pada sopir. Praktek seperti ini tidak hanya dialami oleh kloter SOC 81 Solo. Hampir semua kloter juga mengaku dipungli sopir dan tenaga angkut barang jamaah haji Indonesia baik di bandara, pemondokan maupun di hotel.
"Saya sudah bayar 100 riyal, tapi kok masih kurang saja. Ini para sopir pada mata duitan semua, ini harus dihentikan agara jamaah kita di tahun-tahun mendatang tidak menjadi korban terus menerus," kata seorang petugas haji.
Praktek pungli masih berlanjut. Perjalanan dari pemondokan transit di Jeddah ke Bandara King Abdul Aziz Jedddah pun diwarnai pungli. Jamaah diminta keikhlasannya memberikan uang satu riyal untuk sopir yang mengantar. Karena yang meminta juga jamaah sendiri, jamaah lainnya pun akhirnya merogoh kocek untuk pungli yang disebut sebagai sedekah itu meski petugas kloter sudah melarangnya.
"Coba sekali-kali kita tolak permintaan mereka seperti yang dilakukan jamaah asal Malaysia atau asal india. Pasti kita tidak ditarik setiap naik seperti ini. Kalau sopirnya ngotot kita bilang aja, nanti kita laporkan pada muassasah, pasti mereka takut," kata petugas haji yang memberikan arahan pada jamaahnya.
Pungli terus berlanjut sampai ketika jamaah haji menginjakkan kaki di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Petugas pengangkut barang jamaah ikut meminta bayaran pada jamaah. Demi alasan mempercepat proses, jamaah pun menyerahkan sekitar 20 riyal.
"Praktek pungli itu terjadi pada hampir semua kloter meskipun besarannya tidak sama seperti dialami oleh kloter SOC 81. Ini semua tentu sangat merugikan jamaah haji Indonsia yang telah membayar mahal. Namun sampai di Tanah Suci juga masih diminta membayar lagi biaya yang seharusnya tidak dibayar," kata jamaah haji asal kloter SUB 85 (Surabaya), Sonhaji.
"Pak Menteri harus tegas memerintahkan pada anak buah untuk membersihkan praktek ini semua," pinta seorang jamaah asal kloter SUB 85, Emi Sundari.
(yid/nrl)











































