Pengamat: Sikap Oposisi dan Politisi Kita Aneh

Nilai Negatif Penurunan Harga BBM

Pengamat: Sikap Oposisi dan Politisi Kita Aneh

- detikNews
Selasa, 13 Jan 2009 23:32 WIB
Jakarta - Sikap para politisi dan oposisi di Indonesia dinilai aneh, sebabnya ketika harga bahan bakar minyak (BBM) turun justru memandang negatif kebijakan Pemerintahan SBY-JK. Para politisi dan kelompok oposisi diminta bersikap jujur dalam melihat kondisi yang terjadi saat ini, bila tidak ingin ditinggalkan oleh rakyat.

"Publik, politisi dan oposisi harus jujur melihat kondisi ini. Semakin berupaya memberikan reaksi negatif terhadap kebijakan tersebut, rakyat akan semakin meninggalkan politisi dan oposisi," kata Ketua Program Magister Managemen Universitas Bandar Lampung, Edi Irawan, kepada detikcom melalui telepon di Jakarta, Selasa (13/1/2009).

Menurut pengamat ekonomi yang alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, penurunan harga BBM merupakan tindakan pemerintah yang sportif yang harus
direspon positif. Tindakan pemerintah ini justru akan mendorong sektor riil semakin tumbuh dan juga memperkokoh fundamental ekonomi Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau diakui Edi, kemajuan sektor riil dan fundamental ekonomi memang tidak
terlihat nyata dan cepat, sehingga menjadi bahan olok-olokan bagi yang tidak
mengerti. Ongkos produksi dan transportasi turun, walau belum drastis.

"Semangat survive masyarakat luar biasa meningkat ketika krisis pangan dan energi serta pasar finansial global. Ini jangan justru kendur dengan penurunan BBM yang sudah tiga kali dilakukan. Sepanjang yang saya tahu, SBY mengerti managemen energi dan minyak bumi, apalagi dia pernah menjadi Menteri Pertambangan dan Energi di era Presiden Gus Dur," jelasnya.

Oleh sebab itu, Edi meminta kepada semua pihak, khususnya politisi dan oposisi untuk jujur melihat kondisi yang ada. Para politisis dan oposisi memang memiliki hak untuk mengkritik dan menyerang kebijakan pemerintah saat menaikan BBM atau sejumlah bahan pokok lainnya. Anehnya, ketika harga minyak turun, justru para oposisi memandangnya negatif.

"Ini hanya ada di Indonesia. Jangan berpolitik dengan mengabaikan sukacita
dan kemesraan pemerintah dengan rakyatnya. Bukankah rakyat pernah menggerutu di saat BBM naik," pungkasnya.

(zal/rdf)


Berita Terkait