"Saya mengirim 2 helikopter untuk membantu pencarian korban kapal tenggelam di Majene," kata JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2008).
Helikopter yang dikirim milik PT Bukaka, milik keluarga besar JK. 2 Heli itu jenis Bolco 105. Heli ini akan dipinjamkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taat Azas
Dalam kesempatan itu, JK meminta agar administratur pelabuhan taat pada aturan berlayar yang berlaku.
"Tidak bisa dilawan cuaca buruk itu. Satu-satunya cara adalah taat azas.
Kalau BMG kita bilang jangan berlayar ya jangan dilakukan. Azas berlayar itu nomor satu. Tidak apa-apa sayuran busuk gara-gara terlambat. Apa boleh buat daripada kapalnya tenggelam," papar JK.
Dikatakan dia, ada beberapa penyebab yang mengakibatkan kapal kelebihan penumpang. Pertama, perusahaan. Kedua, anak buah kapal (ABK) dan ketiga, penumpang ilegal.
"Itu selalu terjadi. Biasanya ada penumpang yang bilang hanya mengantar tetapi ternyata tidak turun. Kadang ada juga yang main dengan ABK. Ada juga yang perusahaannya sengaja melebihkan penumpang," bebernya.
Untuk itu, lanjut dia, administratur pelabuhan harus tegas. "Tetapi dilema juga karena kapal penumpang tidak bisa dihitung satu per satu penumpangnya," kata JK.
KM Teratai Prima tenggelam dalam perjalanan pelayaran Pare-pare-Samarinda, yakni di sekitar perairan Baturoro, Selat Makassar, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Kapal ini berpenumpang 200 orang lebih. Dari jumlah itu, baru 35 penumpang yang berhasil ditemukan termasuk 1 orang tewas. Polisi masih menyelidiki sebab musabab kecelakaan maut tersebut. (aan/iy)











































