"Tidak punya jago sendiri, tapi bersedia mendukung asal dibayar sekian miliar. Ini partai yang nista," kata Amien usai diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin
(12/1/2009).
Praktek menjual suara dukungan, marak terjadi pada Pilpres 2004 yang merupakan kali pertama bangsa Indonesia berkesempatan memilih langsung pasangan presiden dan wapres. Kala itu banyak parpol mendukung pasangan calon asal mendapat kompensasi tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan jadi seperti itu lagi, karena pilpres penting. Dari pada jadi partai
rental sebaiknya duduk bersama mencari solusi alternatif kepemimpinan nasional," kata pendiri PAN itu.
(ndr/lh)











































