Kapal Tak Pancarkan Sinyal Darurat

KM Teratai Prima Tenggelam

Kapal Tak Pancarkan Sinyal Darurat

- detikNews
Senin, 12 Jan 2009 15:43 WIB
Kapal Tak Pancarkan Sinyal Darurat
Jakarta - Saat KM Teratai Prima tenggelam, dia tidak memancarkan sinyal. Hingga hari Senin ini, sinyal darurat tersebut tak juga bisa ditangkap. Posisi kapal diperkirakan sudah bergeser.

"Sudah koordinasi pencarian dan pertolongan. Kapal tidak dilengkapi EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon-red). Tidak ada sinyal darurat yang ditangkap saat kapal tenggelam," ujar Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Ida Bagus Sanubari dalam jumpa pers di Gedung Departemen Perhubungan (Dephub), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2009).

Karena tidak diterima sinyal darurat, imbuh Sanubari, maka pencarian mengikuti arah arus laut.Β  Karena arus laut menuju ke arah Timurlaut, maka pencarian diarahkan ke utara dari koordinat awal yaitu LS 3o5'20" dan BT 118o44'30".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita switch ke arah utara, karena korban terakhir ditemukan mengambang di sepanjang arah utara," kata dia.

Sementara Direktur Operasional Basarnas Teddy SP mengatakan kedalaman laut di perairan Majene, seperti lokasi kedalaman kotak hitam AdamAir ditemukan, yaitu 2 ribu meter.

"Perairan itu kedalamannya 2 ribu meter, persis seperti AdamAir. Landaian lalu patah. Korban terakhir saja ditemukan bergeser 2 menit dari koordinat awal. Dua menit itu berapa nautical mile," ujar dia.

Sedangkan Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengatakan jika ada transmitter darurat atau EPIRB akan mengambang di air jika terjadi sesuatu.

"Menurut info, kapal ini bawa emergency transmitter. Faktanya, Basarnas tidak mendapatkan sinyal itu," tutur Tatang.

Begitu pula kapal yang melewati lokasi KM Sinar Bontang, tidak mendapatkan sinyal. "Kalau satu alat yang seharusnya mengambang tapi (kenyataannya) tidak, berarti mungkin masih di dalam kapal. Ini yang akan kami investigasi," ujar dia.

Fakta lain, imbuh dia, pada 11 Januari, awak kapal masih berkomunikasi dengan pemilik kapal pukul 02.0 Wita, satu jam sebelum tenggelam. "Pada pukul 03.00 penumpang juga masih tertidur," kata Tatang.

KNKT yang mengirimkan dua investigatornya, Kunto dan James Tambunan, belum bisa menduga-duga. "Itu ada tiga faktor, masalah awak, masalah kapal, dan masalah cuaca," kata dia.

Tatang pun mewanti-wanti dengan keras kepada para operator penerbangan dan pelayaran.

"KNKT merekomendasikan kepada operator penerbangan dan pelayaran, diperhitungkan betul-betul cuaca ini. Dihitung betul untuk setiap penerbangan dan pelayaran," pesan dia.

(nwk/nrl)



Berita Terkait