Polres Mataram dan Polda NTB mengerahkan aparat keamanan untuk berjaga-jaga di lokasi bencana. Penjagaan paling banyak terutama di Sekarbele, Karang Pule. Sebab wilayah yang paling parah dilanda banjir ini adalah pusat kerajinan emas dan mutiara di Kota Mataram. Di sini, sebagian besar dari ratusan toko emas dan perhiasan milik warga terendam air.
Warga laki-laki juga terlihat ikut bersama aparat keamananan berjaga-jaga. "Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saja," ujar Azami, salah seroang pemilik toko emas dan mutiara, Sabtu (10/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di beberapa masjid, seperti di Masjid Nurul Iman, Batu Ringgit, Karang Pule, warga terlihat tidur di atas alas tikar seadanya. Sebagian warga ada yang terlihat tidur beralaskan kasur.
Walikota Mataram Mohammad Ruslan telah menjamin kebutuhan pokok para pengungsi. Menurut Ruslan, pemerintah juga terus memantau kondisi para pengungsi yang memilih menginap di rumah famili mereka yang tak terkena banjir.
Menurut Walikota, banjir kali ini adalah banjir terbesar dalam tiga tahun terakhir. Namun ia menolak kalau ada pihak yang menyebut banjir ini diakibatkan drainase Kota Mataram yang buruk. Banjir ini, kata Ruslan, murni akibat fenomena alam dan curah hujan yang amat tinggi. Sejauh ini baru tujuh rumah diidentifikasi roboh dan hanyut. Sisanya beberapa rusak ringan.
Sepanjang sore hingga Magrib tadi, petugas Dinas Kebersihan Kota Mataram terlihat turun membersihkan selokan dalam kota. Truk-truk sampah mengangkut gunungan sampah dari selokan ke arah tempat pembuangan akhir sampah di Kebon Kongok, Lombok Barat. (sho/sho)










































