"Masih di pelabuhan di dekat Gedung Pompa. Belum kita dapatkan nomor registernya. Kita masih periksa," ujar Direktur Polairud Polda Metro Jaya AKBP Edion kepada detikcom, Jakarta, Jumat (9/1/2009).
Menurut Edion, pihaknya sudah mengirimkan surat ke TNI AU dan Ditjen Perhubungan Udara Dephub untuk meneliti dan mengetahui identitas bangkai pesawat tersebut.
"Koordinasi di lapangan memang sudah. Tapi kan nomor registernya belum diketahui. Dengan koordinasi kita bisa tahu kapan terjadinya kecelakaan pesawat itu, milik siapa dan lain sebagainya," jelasnya.
Edion mengatakan, setelah nomor register sudah diketahui, baru pihaknya akan berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri. "Nanti kita cek di kedubes-kedubes itu sebenarnya punya siapa," imbuhnya.
Saat diangkat, lanjut Edion, bangkai pesawat tersebut terputus karena sudah lama berada di dalam laut. Sehingga ekor dan rodanya diamankan secara terpisah dengan badan pesawat.
"Karena sudah tua jadi putus. Eko dan roda kita amankan di ruangan tertutup yang selalu dijaga," tandasnya.
10 Nelayan menemukan bangkai pesawat saat hendak melaut. Mereka kemudian melaporkan hal ini ke polisi pada Kamis 1 Januari 2009. Polairud kemudian melakukan penyelaman untuk mengangkat pesawat jenis Amphibi tersebut.
(gus/iy)











































