Kepada para wartawan di Washington, Obama kembali membela sikap diamnya itu. Dikatakan Obama, jika menyangkut kebijakan luar negeri, dirinya akan mengacu ke prinsip "satu presiden pada satu waktu."
"Kita tidak bisa memiliki dua suara yang berasal dari AS di saat kita punya begitu banyak yang dipertaruhkan," kata Obama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama periode transisi ini, kami tidak terlibat dalam tindakan apapun yang bisa mengirimkan sinyal membingungkan ke dunia mengenai siapa yang berbicara atas nama AS," tegas asisten transisi Obama seperti dilansir Reuters, Selasa (6/1/2009).
Sejumlah kritikus mencetuskan, dengan sikap diamnya, Obama telah kehilangan kesempatan untuk melepaskan diri dari sikap Presiden Bush yang pro-Israel.
"Diamnya Obama selama 10 hari mematikan di Israel ini telah menggema dan terdengar di seluruh dunia," cetus ahli strategi Partai Republik, Scott Reed.
Namun Shibley Telhami dari lembaga Pusat Saban untuk Kebijakan Timur Tengah membenarkan sikap diam Obama soal agresi militer Israel di Gaza.
"Sangat bijak bagi dia untuk tak berkata apapun," ujar Telhami. Sebab menurut Telhami, dengan posisinya sekarang yang belum resmi dilantik menjadi presiden, Obama tak bisa berbuat banyak untuk mempengaruhi apa yang terjadi saat ini. (ita/iy)











































