"Dulu ada tokoh di Irak, Mesir dan Suriah, tapi sekarang tidak ada leader yang kuat di Timur Tengah. Qadafi di Libia sekarang sudah jadi good boy AS," ujar Hamdan Basyar, peneliti pusat politik LIPI bidang Timur Tengah, pada detikcom, Senin (5/1/2009).
Sebenarnya negara-negara Timur Tengah khususnya di kawasan Teluk, punya posisi tawar yang cukup kuat terhadap AS terkait peran mereka sebagai produsen utama minyak dunia. Pada krisis 1973 mereka berhasil mendesak AS untuk menekan Israel dengan mengenakan embargo suplai minyak ke AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contohnya adalah pemerintah Mesir yang tidak kunjung membuka pintu perbatasan di Rafah bagi bantuan ke Palestina. Menurut Hamdan, sikap tersebut terkait dengan besarnya bantuan AS pada Mesir pasca perjanjian Camp David 1978.
Begitu juga dengan pemerintah Kuwait yang merupakan pemasok utama minyak ke AS. Negara petro dollar tersebut punya utang budi kelewat tinggi terhadap AS saat menghadapi invasi Irak pada 1991 silam.
"Jadi kalau terlalu kontra dengan Israel, tentu akan ada konsekuensi politik dan ekonomi. Maka mereka lebih mempedulikan nasibnya sendiri daripada memikirkan tetangganya," papar Hamdan.
Namun bukan berarti warga negara-negara Timur Tengah hanya diam di depan TV menyaksikan penderitaan bangsa Palestina. Karena tidak mungkin mengambil langkah politik yang tegas dan keras, maka jalur kemanusiaan yang diberdayakan.
"Di kalangan masyarakat jelas ada simpati dan tekanan pada pemerintahnya. Maka lalu LSM sosial yang dipakai, misalnya di Jordan ada LSM besar yang menyalurkan bantuan logistik untuk Palestina," jelas Hamdan. (lh/iy)










































