Bangkai Pesawat Ditemukan Tanggal 16 Desember

Penemuan Bangkai Pesawat AS di Pulau Seribu

Bangkai Pesawat Ditemukan Tanggal 16 Desember

- detikNews
Sabtu, 03 Jan 2009 16:00 WIB
Jakarta - Bangkai pesawat AS yang ditemukan di perairan Kepulauan Seribu ternyata sudah diketahui sejak tanggal 16 Desember 2008. Penemunya sempat merahasiakan temuan tersebut.

Iwan (30), salah satu dari sepuluh penyelam yang pertama kali melihat bangkai pesawat itu di dasar laut bercerita kepada detikcom ihwal kronologis penemuan pesawat tua keluaran tahun 1915 itu.

Menurut Iwan, pada tanggal 16 Desember 2008, ada seorang nelayan yang sedang menjaring ikan di sekitar Kepulauan Seribu. Setelah lama melepas jaringnya di lautan, ia hendak mengangkat jaringnya ke atas kapal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi di luar dugaan, ia kesulitan mengangkat jaringya. Ia merasa ada benda di dasar laut yang menyangkut di jaringnya sehingga susah ditarik.

Karena kesulitan mengangkat jaringnya sendirian, nelayan itu lalu meminta bantuan penyelam tradisional yang kebetulan sedang melintas di perairan tersebut. Salah satu penyelam itu adalah Iwan.

Dibantu 10 orang penyelam, nelayan itu berusaha mengangkat jaringnya sekuat tenaga. Sayang usaha itu pun masih gagal. Iwan dan temannya mengira jaring sang nelayan tersangkut di karang besar.

"Kami kira itu tersangkut karang," cerita Iwan kepada detikcom, Sabtu (03/12/2008).

Merasa gagal, ia dan kesembilan rekannya memutuskan untuk mengetahui langsung ke dasar laut, apa yang menghalangi jaring itu sehingga susah ditarik ke atas.  

Mereka pun langsung menyelam ke dasar laut. Di kedalaman 25 meter dari permukaan laut, kesepuluh penyelam itu kaget. Ternyata bukan karang besar yang mereka temukan, melainkan jaring nelayan itu menyangkut pada besi tua berukuran besar.

Tapi mereka belum tahun persis, besi tua berukuran besar itu sebenarnya benda apa. Selama 2 hari sejak penemuan itu, mereka terus menyelam guna memastikan benda yang mereka lihat itu.

Setelah diselami selama 2 hari, barulah mereka yakin besi tua yang mereka lihat di dasar laut adalah bangkai pesawat terbang.

Posisi persis penemuan bangkai versi para penyelam tradisional ini, berada diantara Pulau Damar Kecil dan Pulau Tala. Letaknya 1,5 mil dari Pulau Damar Kecil. Hal ini berbeda dari keterangan versi Polisi sebelumnya, yang menyebutkan posisi bangkai kapal pertama kali di temukan di antara Pulau monyet dan Pulau Tala.

Anehnya, mereka sempat merahasiakan penemuan bangkai kapal itu. Dari pengakuan Iwan, terungkap bahwa upaya merahasiakan penemuan itu, lantaran mereka tak ingin penemuannya diklaim oleh pihak-pihak lain yang akan mereka beritahu soal penemuan itu.

Mereka baru memberitahukan ke Polisi soal penemuan itu pada tanggal 30 Desember saat bangkai kapal akan dinaikkan ke permukaan laut.

Bangkai kapal itu dinaikkan pertama kali ke permukaan laut pada pukul 14.00 WIB, dengan cara ditarik menggunakan tali yang sudah dikaitkan ke bangkai pesawat dan ujung satunya lagi dikaitkan ke 40 drum yang diapungkan di laut.

Setelah berhasil diangkat ke permukaan laut, bangkai kapal ditarik dengan kapal menuju daratan selama 3 hari.


"Kalau normal cuma 1 setengah jam, tapi karena bangkai ini berat jadi 3 hari," sambung Iwan lagi.

Ia juga menuturkan, proses pengangkatan bangkai kapal memakan waktu lama lantaran gelombang di dasar laut cukup deras. Pada saat ditemukan di dasar laut, body pesawat pun masih dalam keadaan utuh. Baik bagian badan, sayap kanan-kiri, dan bagian sayap belakang.

Sayangnya pada saat bangkai pesawat hendak diangkat ke daratan, salah satu sayapnya di bagian kanan dan belakang putus. Sehingga yang berhasil diangkut ke daratan saat ini hanya sayapnya yang sudah terputus. (Rez/gah)


Berita Terkait